Breaking News
Rabu, 20 Mei 2026

Kupi Beungoh

Ketika Tendik Cemburu pada Dosen: Akademik Tergadai dan Kebebasan Terancam

Bahkan suasana kampus sengaja diciptakan supaya dosen lebih sering berhadapan dengan tumpukan SOP administratif ketimbang forum diskusi .

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
Serambinews.com/HO
Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Dr H Herman MA 

Namun, ketidak tersediaan dosen di ruang kerja terkadang dimaknai sebagai ketidakaktifan, sehingga muncul absen ganda, yaitu aplikasi pusaka dan fingerprint untuk dijadikan dasar pembayaran uang makan.

Tantangan lain yang dihadapi adalah belum sinkronnya sistem monitoring kinerja antara tugas administratif dan tugas akademik

Akibatnya, indikator kehadiran fisik masih sering dijadikan rujukan utama, sehingga kegiatan dosen di luar kampus untuk kepentingan riset atau diseminasi ilmiah perlu dijelaskan secara berulang kepada unit pendukung.

Semua hal tersebut terjadi, karena pimpinan kurang memiliki literasi tentang karakteristik kerja akademik di lingkungan kampus. Belum adanya pemahaman yang utuh mengenai fleksibilitas tugas dosen di kampus.

Kondisi yang demkian ikut menciptakan konflik di kampus yang dapat merusak komunikasi yang konstruktif antara seluruh unsur sivitas akademika di kampus. 

Dampak Dosen Jadi Admin dan Ilmu Jadi Korban

Kerugian pertama yang dirasakan dosen adalah kelelahan administratif kronis. Waktu produktif dosen habis memikirkan hal-hal yang tidak perlu, karena merespon hal-hal yang eksklusif yang muncul di lingkungan kampus.

Suasana kampus sengaja dikotak-kotak, dan atau dibuat kelompok-kelompok, dan atau dilarang duduk dengan orang-orang tertentu karena beda aliran dan paham dalam memandang kemajuan kampus. Dosen dikuras energi dengan itu sihingga waktu membaca jurnal terbaru dan menulis artikel ilmiah akhirnya hilang motivasinya. 

Kerugian kedua adalah sirnanya motivasi dan inovasi dosen mengajar di kelas. Dosen kurang semangat, pikiran melayang dan kesiapan mengajar kurang optimal.

Bahkan ada  dosen menjadi takut menerapkan case method atau project based learning karena khawatir dianggap tidak tertib administrasi.

Kuliah daring yang efektif malah dicap “dosen malas ngantor” oleh sebagian pejabat struktural/tendik pengawas absensi.

Kerugian ketiga adalah eksodus intelektual dari kampus. Dosen produktif kadang kala cenderung memilih pindah ke kampus lain yang lebih menghargai otonomi akademik kampus.

Mungkin yang bisa sanggup bertahan di kampus adalah dosen putra daerah dan dosen yang nyaman menjadi “staf pengajar” saja tanpa visi riset dan pengabdian kepada masyarakat. 

Berdasarkan ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa kecemburuan sosial antara tendik dan dosen adalah bom waktu yang sedang menggerogoti kampus dari dalam.

Akarnya ada pada sistem remunerasi yang timpang, SOTK yang mencampuradukkan jalur akademik-birokrasi, dan minimnya literasi tentang kebebasan akademik. Solusinya bukan mempertentangkan dua pilar ini, tetapi menegaskan peran.

Pertama, revisi SOTK: dosen dibina oleh Senat dan WR I /Waket I urusan tri dharma, tendik oleh WR II/Waket II urusan layanan. Pejabat struktural/Tendik tidak berwenang menilai substansi akademik.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved