KUPI BEUNGOH
Dollar dan Dapur Rumah Tangga di Desa
Pernyataan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu soal desa tidak memakai dollar sedang ramai dibicarakan.
Dampaknya menjalar pelan-pelan sampai ke desa.
Harga pupuk naik, petani mengeluh. Harga solar berubah, ongkos distribusi meningkat. Pedagang di pasar ikut menyesuaikan harga.
Warung kecil mulai mengurangi stok barang tertentu karena modal makin berat. Bahkan harga bahan bangunan untuk proyek desa ikut naik karena sebagian material masih dipengaruhi harga global.
Akibatnya, banyak proyek bangunan melambat, sementara masyarakat desa yang bekerja sebagai tukang bangunan ikut kehilangan pekerjaan.
Masyarakat desa akhirnya menghadapi situasi yang agak ironis. Mereka tidak pernah merasa terhubung dengan ekonomi global, tetapi tetap harus menanggung akibatnya.
Yang menarik, desa sering dianggap sebagai ruang ekonomi yang tahan krisis. Ada benarnya. Desa memang punya kemampuan bertahan lebih baik dibanding kota dalam beberapa situasi.
Warga masih bisa bertani, saling membantu, atau memanfaatkan sumber daya lokal. Tetapi bukan berarti desa kebal terhadap tekanan ekonomi nasional dan global.
Pandemi COVID-19 dulu sudah menunjukkan hal itu. Ketika ekonomi global terganggu, desa ikut terdampak.
Harga hasil pertanian turun, distribusi terganggu, dan dana bantuan menjadi penyangga utama masyarakat.
Sekarang pola serupa mulai terlihat lagi dalam konteks pelemahan rupiah dan penguatan dollar.
Beban ekonomi ini paling banyak dipikul di level rumah tangga, terutama oleh perempuan. Ketika harga kebutuhan naik, emak-emak biasanya yang pertama melakukan penyesuaian.
Porsi belanja dikurangi, menu makanan diubah, pengeluaran anak ditahan, belanja yang dianggap tidak penting dihapus.
Dalam banyak rumah tangga desa, perempuan menjadi manajer krisis ekonomi paling depan, meskipun kerja mereka jarang dianggap sebagai bagian dari sistem ekonomi formal.
Karena itu, ketika pejabat bicara bahwa desa tidak memakai dollar, masyarakat bisa saja merasa pernyataan itu terlalu jauh dari realitas sehari-hari.
Sebab bagi warga desa, ukuran ekonomi bukan nilai tukar di layar televisi. Ukurannya sederhana: apakah uang belanja masih cukup sampai akhir minggu.
| Akademisi atau Buruh Pengetahuan Global: Ketika Kampus Mengejar Reputasi Tapi Abai Ruh Peradaban |
|
|---|
| Bukan Mafia Sitasi, Ini Jejaring Ilmu: Tanggapan untuk Teuku Muhammad Jamil |
|
|---|
| Nasehat Imam Al-Ghazali dan Cermin Kepemimpinan di Aceh |
|
|---|
| Ketika Tendik Cemburu pada Dosen: Akademik Tergadai dan Kebebasan Terancam |
|
|---|
| Luka yang tak Terlihat: Memahami Burnout dalam Tubuh Kita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Intan-Farhana-SE-MCom-dosen-usk.jpg)