Senin, 18 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Dollar dan Dapur Rumah Tangga di Desa

Pernyataan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu soal desa tidak memakai dollar sedang ramai dibicarakan.

Tayang:
Editor: Firdha Ustin
Istimewa/FOR SERAMBINEWS.COM
Intan Farhana, S.E., M.Com 

Di sisi lain, kita juga perlu jujur bahwa pemerintah tidak mudah menghadapi situasi ekonomi global hari ini.

Nilai tukar dipengaruhi banyak faktor yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan dari dalam negeri.

Konflik geopolitik, suku bunga Amerika, perang dagang, sampai kondisi pasar global ikut menentukan arah rupiah.

Tetapi komunikasi publik tetap penting.

Ketika masyarakat sedang menghadapi tekanan harga, pernyataan pejabat seharusnya tidak terkesan mengecilkan keresahan publik. Karena meskipun desa tidak bertransaksi memakai dollar, masyarakat desa tetap hidup dalam sistem ekonomi yang dipengaruhi dollar.

Di sinilah pentingnya sensitivitas sosial dalam melihat ekonomi. Kadang data makro terlihat baik, tetapi pengalaman masyarakat justru berbeda.

Pertumbuhan ekonomi bisa diumumkan naik, tetapi warga merasa hidup makin berat. Inflasi mungkin disebut terkendali, tetapi emak-emak di pasar punya cerita lain tentang harga kebutuhan sehari-hari yang terus bergerak.

Desa hari ini juga tidak lagi terpisah dari gejolak ekonomi dunia. Informasi masuk cepat, harga bergerak cepat, dan perubahan global bisa langsung terasa sampai ke kampung-kampung.

Bahkan warung kopi kecil di desa sekarang ikut membicarakan harga minyak dunia, biaya pupuk, atau mahalnya kebutuhan pokok. Artinya, ekonomi global sudah masuk ke ruang paling lokal dalam kehidupan masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah daerah perlu mulai memikirkan program yang benar-benar menyentuh ketahanan ekonomi keluarga.

Selama ini, banyak program pembangunan terlalu berfokus pada proyek fisik, padahal tekanan terbesar justru terjadi di dapur rumah tangga masyarakat.

Ketika harga kebutuhan naik, yang paling terguncang bukan hanya anggaran desa, tetapi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, penguatan pangan lokal desa menjadi penting. Program kebun rumah tangga, bantuan bibit, peternakan kecil, hingga penguatan usaha perempuan desa dapat menjadi penyangga ketika harga pasar tidak stabil.

Program seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya cukup signifikan karena langsung menyentuh kebutuhan warga.

Namun program semacam ini tidak boleh dijalankan sekadar untuk menghabiskan anggaran.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved