KUPI BEUNGOH
Dollar dan Dapur Rumah Tangga di Desa
Pernyataan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu soal desa tidak memakai dollar sedang ramai dibicarakan.
Oleh: Intan Farhana, S.E., M.Com *)
Pernyataan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu soal desa tidak memakai dollar sedang ramai dibicarakan.
Maksudnya mungkin sederhana: masyarakat desa tidak melakukan transaksi langsung dengan mata uang Amerika, sehingga gejolak kurs dianggap tidak terlalu berdampak pada kehidupan desa.
Sekilas logika itu terdengar masuk akal. Keuchik tidak belanja pakai dollar. Dana desa juga cair dalam rupiah. Emak-emak di pasar tradisional pun tidak membawa dollar di dompet mereka.
Tetapi ekonomi hari ini tidak bekerja sesederhana itu.
Justru di banyak desa, kelompok yang paling cepat merasakan dampak kenaikan dollar adalah emak-emak.
Mereka mungkin tidak mengikuti berita kurs rupiah setiap hari, tidak memantau pasar saham, dan tidak bicara soal geopolitik global.
Tetapi mereka langsung sadar ketika harga minyak goreng naik, gas LPG makin mahal, pupuk susah dicari, harga ikan berubah, atau uang belanja mingguan tidak lagi cukup seperti sebelumnya.
Di titik inilah persoalan dollar menjadi sangat dekat dengan kehidupan desa.
Emak-emak sebenarnya adalah “sensor ekonomi” paling jujur di masyarakat. Mereka tahu kapan harga cabai mulai tidak masuk akal. Mereka tahu kapan uang seratus ribu terasa cepat habis.
Mereka juga yang pertama kali harus memutar otak ketika pengeluaran rumah tangga meningkat sementara pendapatan keluarga tetap.
Karena itu, penjelasan ekonomi yang terlalu makro sering gagal membaca realitas paling dasar di masyarakat.
Kenaikan dollar memang tidak otomatis membuat warga desa membeli mata uang asing.
Tetapi ketika rupiah melemah terhadap dollar, biaya impor meningkat. Hingga saat ini, Indonesia masih bergantung pada banyak barang impor, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Mulai dari bahan baku pangan, pakan ternak, pupuk, obat-obatan, alat kesehatan, hingga komponen energi. Ketika biaya impor naik, harga barang dalam negeri ikut terdorong.
| Akademisi atau Buruh Pengetahuan Global: Ketika Kampus Mengejar Reputasi Tapi Abai Ruh Peradaban |
|
|---|
| Bukan Mafia Sitasi, Ini Jejaring Ilmu: Tanggapan untuk Teuku Muhammad Jamil |
|
|---|
| Nasehat Imam Al-Ghazali dan Cermin Kepemimpinan di Aceh |
|
|---|
| Ketika Tendik Cemburu pada Dosen: Akademik Tergadai dan Kebebasan Terancam |
|
|---|
| Luka yang tak Terlihat: Memahami Burnout dalam Tubuh Kita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Intan-Farhana-SE-MCom-dosen-usk.jpg)