KUPI BEUNGOH
Dollar dan Dapur Rumah Tangga di Desa
Pernyataan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu soal desa tidak memakai dollar sedang ramai dibicarakan.
Pemerintah daerah dan desa perlu memastikan bantuan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.
Selama ini tidak sedikit bantuan bibit atau ternak yang akhirnya dijual kembali karena kebutuhan uang tunai keluarga lebih mendesak.
Ini menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi keluarga tidak cukup dibangun lewat pembagian bantuan semata, tetapi juga lewat pemahaman terhadap kondisi riil masyarakat desa.
Selain itu, kelompok perempuan desa tidak seharusnya hanya menjadi pelengkap dalam musyawarah desa.
Emak-emak justru kelompok yang paling cepat merasakan perubahan ekonomi. Karena itu, suara mereka penting didengar dalam penyusunan prioritas anggaran desa.
Pada akhirnya, perdebatan tentang dollar bukan sekadar soal mata uang. Ini soal bagaimana negara hadir ketika masyarakat kecil mulai kesulitan mempertahankan kehidupan sehari-harinya.
Dan dalam banyak kasus, orang pertama yang paling cepat merasakan tekanan itu memang emak-emak desa.
Mereka mungkin tidak pernah bicara soal kurs rupiah. Tetapi mereka tahu persis kapan hidup mulai terasa lebih mahal.
Penulis adalah dosen bidang Akuntansi Sektor Publik pada Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Akademisi atau Buruh Pengetahuan Global: Ketika Kampus Mengejar Reputasi Tapi Abai Ruh Peradaban |
|
|---|
| Bukan Mafia Sitasi, Ini Jejaring Ilmu: Tanggapan untuk Teuku Muhammad Jamil |
|
|---|
| Nasehat Imam Al-Ghazali dan Cermin Kepemimpinan di Aceh |
|
|---|
| Ketika Tendik Cemburu pada Dosen: Akademik Tergadai dan Kebebasan Terancam |
|
|---|
| Luka yang tak Terlihat: Memahami Burnout dalam Tubuh Kita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Intan-Farhana-SE-MCom-dosen-usk.jpg)