Selasa, 19 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Antrean di Jembatan Kutablang dan Rumah Sakit yang Siap Melayani

Jembatan adalah penghubung dua wilayah yang terpisah oleh rintangan fisik seperti sungai, lembah, atau rel kereta api yang berfungsi memperlancar

Tayang:
Editor: mufti
IST
CHAIRUL BARIAH, Dosen LLDikti Wilayah XIII Dpk Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Lhoksukon, Aceh Utara 

Pada saat kami kunjungi, ‘owner’ rumah sakit ini Almuzakkir memperlihatkan lahan di bagian belakang yang

sudah ditimbun dan akan dibangun gedung baru untuk kebutuhan pelayanan kesehatan bagi

masyarakat.

Standar pelayanan kesehatan sudah dipenuhi oleh rumah sakit ini sehingga diberikan

kepercayaan untuk melayani pasien dengan menggunakan BPJS Kesehatan sejak Juli tahun 2025. Sejak saat itu pasien pun mulai ramai, bahkan terkadang melebihi dari jumlah 56 ranjang yang tersedia.

Untuk memberikan layanan kesehatan yang prima, Rumah

Sakit Zahra didukung oleh 121 karyawan, termasuk 13 dokter spesialis, yaitu dua spesialis penyakit dalam, dua spesialis bedah, dua spesialis paru, dan dua spesialis anak.

Kemudian, masing-masing satu orang spesialis THT, spesialis kandungan, spesialis patologi klinik, spesialis radiologi, dan spesialis anastesi.

Palayanan yang diberikan tidak hanya pada saat jam kerja, tetapi juga pada hari libur tetap ada tenaga medis yang bertugas, seperti pada saat kunjungan kami hari Minggu yang lalu. Saat itu, petugas mulai dari satpam, tenaga kebersihan, perawat, hingga dokter siap melayani pasien, termasuk juga menerima kunjungan kami. Dokter Yudi, sang direktur bersama ‘owner’ rumah sakit ini menyambut kami dengan ramah.

Setelah selesai berbincang-bincang dengan manejemen rumah sakit, kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Alue Ie Puteh, hanya berjarak 10 km dari Lhoksukon. Tujuannya untuk bersilaturahmi ke kediaman adik ipar yang sudah menetap hampir 32 tahun di gampong ini.

Alue Ie Puteh termasuk gampong yang terdampak banjir pada akhir November tahun lalu. Derasnya air

menghanyutkan barang-barang, termasuk juga surat-surat berharga milik warga, seperti sertifikat tanah dan surat kendaraan.

Padahal, beberapa tahun lalu kawasan ini hijau oleh aneka tanaman dan bunga. Namun, saat ini terasa gersang.

Hari menjelang sore, kami pun bergegas pulang, karena khawatir terjebak antrean panjang di Jembatan Kutablang.

Seperti biasa, menjelang sore di hari libur, mobilitas kendaraan selalu padat, baik dari arah barat maupun timur. Seperti dugaan kami, ternyata antrean panjang pun terjadi. Kami terpaksa menunggu dengan penuh kebosanan. Hampir dua jam baru dapat melewati Jembatan Kutablang. Semoga jembatan yang sudah dua kali diterjang banjir bandang ini cepat selesai dibangun baru.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved