Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Profesor Gudang Moral

Gen Z menyebutkan quality time. Demikianlah selama beberapa hari saya jadi guru dengan berbagi pengalaman dan belajar di Tanoh Endatu

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com/serambinews
Dr Safrizal ZA MSi, Dirjen Adwil, Ketua Majelis Wali Amanat USK, dan Kepala Posko Satgaswil PRR Aceh 

Dr Safrizal ZA MSi, Dirjen Adwil, Ketua Majelis Wali Amanat USK, dan Kepala Posko Satgaswil PRR Aceh

PEKAN lalu menjadi hari-hari yang menyenangkan hati dan pemikiran. Gen Z menyebutkan quality time. Demikianlah selama beberapa hari saya jadi guru dengan berbagi pengalaman dan belajar di Tanoh Endatu. Dalam kapasitas sebagai Dirjen Bina Adwil Kemendagri, saya didapuk sebagai narasumber pada lokakarya “Growth with Nature” di Banda Aceh, Senin (11/5/2026). Dengan peserta anak muda dan lain-lain, saya ungkap untuk membangun Aceh harus tumbuh bersama alam, bukan menaklukkan alam. Saya bongkar ingatan peserta pada bencana gempa bumi dan tsunami 2004 serta bencana hidrometeorologi pada November 2025 yaitu kewajiban merawat ekosistem. Kita jaga alam, alam jaga kita. Menjaga hutan adalah investasi jangka panjang untuk ketahanan ekonomi dan keselamatan masyarakat.

Saya sadur kearifan lokal warisan endatu kita yakni Hadih Maja “Di bineh pasi ta pula aron, di dalam neuheun ta pula bangka yang maknanya tanam cemara di pesisir dan tanam mangrove di tambak agar masyarakat terlindungi dari air pasang. Pranata adat seperti Mukim, Panglima Laot, Panglima Uteun, Keujruen Blang dan lain-lain adalah bukti bahwa rakyat Aceh telah mengenal prinsip keberlanjutan jauh sebelum istilah sustainability populer secara global.

Kemudian besoknya, Selasa (12/5/2026) dalam kapasitas sebagai Kepala Posko Wilayah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) saya tampil di forum Workshop Kreator Informasi Lokal yang diinisiasi oleh Direktorat Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Digital. Di era teknologi, kita ingat jargon siapa yang menguasai informasi, maka menguasai dunia. Di tengah hiruk pikuk informasi, penting memastikan informasi yang disampaikan dapat dipahami oleh penerima. Berharap dari workshop ini dapat melahirkan pembuat konten yang bagus, informatif, dan benar.

Masih pada hari yang sama di tempat berbeda, dalam kapasitas sebagai dosen FISIP USK, saya memberi dengan tema Dinamika Hubungan Pusat Daerah. Saya sebagai mantan Lurah di Kota Lhokseumawe, mantan camat di Aceh Utara, dan lain-lain hingga berkarier di Kemendagri paham perihal lika-liku birokrat dari bawah ke atas. Sangat penting bagi daerah dan pusat merajut komunikasi dan kolaborasi. Dalam hal ini dibutuhkan lobi dan diplomasi.

Sejatinya hari yang membahagiakan diawali pada Selasa pagi yakni saya dalam kapasitas sebagai Ketua Majelis Wali Amanat USK didaulat menyampaikan pidato pada sidang Terbuka Senat Akademik USK untuk pengukuhan enam profesor. Pada mulanya, saya saksikan kursi para undangan belum semua terisi. Seiring jarum jam berotasi, semua kursi terisi. Di era digital, kegiatan ini juga live di youTube. Jadi bisa disaksikan melalui media sosial sambil rebahan atau meneguk kopi bergelas-gelas.

Secara garis besar, jabatan profesor bukanlah titik akhir karier, melainkan gerbang tanggung jawab intelektual yang lebih berat. William Arthur Ward (1921–1994) penulis, pendidik, dan motivator dari Amerika Serikat menyatakan “Teaching is more than imparting knowledge: it is inspiring change. Learning is more than absorbing facts: it is acquiring understanding.”

Mengutip pidato Rektor USK Prof. Mirza Tabrani yang menggarisbawahi Kampus Jantong Hatee Rakyat Aceh ini memiliki 246 guru besar USK dengan rincian 179 guru besar bidang sains dan 67 guru besar sosial humaniora. Di level nasional, USK masuk enam besar universitas terbanyak guru besar. Sementara di Sumatra, USK adalah kampus terbanyak guru besar. Saya sehaluan dengan Prof Mirza yang mewartakan gelar profesor bukan sekadar capaian akademik. Ada tanggung jawab moral untuk menghadirkan solusi bagi masyarakat. Nilai profesor bukan hanya pada kedalaman ilmunya, tetapi sejauh mana ilmu itu mampu memberi manfaat dan menjawab persoalan kehidupan.

Di mana-mana dibutuhkan kapasitas. Selain kapasitas ada integritas akademik. Jagalah integritas akademik setinggi-tingginya dan sebaik-baiknya. Ketika kampus kehilangan integritasnya, runtuhlah kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Di tengah dunia yang semakin pragmatis, Profesor harus tetap menjadi teladan moral, penjernih di tengah kegaduhan, dan penuntun ketika masyarakat kehilangan arah.

Marwah akademik

Saya menyampaikan tahniah kepada enam profesor yang dikukuhkan. Pertama, Prof. Dr. Zumaidar, S.Si., M.Si riset di bidang biologi tumbuhan dan etnobotani yang membuktikan tanaman lokal Aceh dari bak kala, jeumpa kuneng, hingga salak Aceh menyimpan potensi besar sebagai bahan antidiabetes dan antikanker. Pengetahuan leluhur kini bertemu sains modern. Kedua, Prof. Dr. rer. nat. Ilham Maulana, S.Si. mengembangkan nanopartikel tembaga melalui pendekatan green synthesis berbasis ekstrak tumbuhan lokal. Ketiga, Prof. Dr. Vivi Silvia, S.E., M.Si menyebutkan rumah tangga adalah tulang punggung perekonomian Indonesia, bukan sekadar konsumen pasif. Risetnya menempatkan penguatan UMKM dan perlindungan daya beli sebagai fondasi pembangunan ekonomi nasional.

Keempat, Prof. Dr. Rizwan, S.T., M.T mengupas solusi bagi galangan kapal tradisional yang kerap goyah saat pasar berubah. Melalui pendekatan supply chain resilience, risetnya memperkuat ekonomi pesisir yang bergantung pada industri perkapalan rakyat. Kelima, Prof. Dr. dr. Iskandar Zakaria, Sp.Rad.(K) mendalami hubungan faktor genetik dengan keparahan stroke lewat pencitraan CT Scan. Temuannya membuka jalan bagi metode deteksi dini yang lebih personal dan tepat sasaran. Terakhir, Prof. Dr. Drs. Ir. Tarmizi, M.Sc di bidang matematika komputasi menunjukkan bagaimana simulasi matematis mampu membaca dinamika laut hingga pola penyebaran penyakit-- alat bantu pengambilan keputusan yang krusial bagi pemerintah.

Keahlian mereka ini sangat dibutuhkan untuk memakmurkan daerah. Pengukuhan hari ini menjadi awal pengabdian yang semakin luas kepada masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. Teruskanlah menyalakan ilmu, menjaga marwah akademik dan menjadikan Universitas Syiah Kuala sebagai sumber pengetahuan yang berdiri kokoh dari ujung barat Indonesia ke dunia.

Kita paham, Serambi Mekkah dikepung oleh perairan yang bisa bikin masyarakat sejahtera. Harus dicatat, di balik pencapaian tertinggi ini, ada istri, suami, keluarga dan lain-lain yang mendukung hingga menjadi guru besar. Kita yakin, kehadiran guru besar yang berpihak pada kemanusiaan, maka masa depan bangsa tetap memiliki harapan. Kita juga mengerti sejak dulu, Aceh adalah lumbung para intelektual yang hingga kini karya atau manuskrip dijadikan rujukan intelektual dunia.

Karena itu kampus yang kehilangan integritasnya berdampak pada kepercayaan publik turun. Kampus bisa kehilangan integritas di tengah dunia yang semakin pragmatis. Kita yakin profesor adalah gudangnya moral dan menjadi suara penjernih di tengah kegaduhan. Profesor menjadi penuntun ketika masyarakat kehilangan arah.
Marilah kita jaga integritas dalam bidang setinggi-tingginya. Kampus akan kehilangan integritasnya kalau kepercayaan publik turun karena kehilangan integritas di tengah dunia yang semakin pragmatis. Teruslah menjalankan ilmu menjaga marwah akademik dan menjadikan Universitas Syiah Kuala sebagai mercusuar pengetahuan dari ujung barat Indonesia ke dunia.

Profesor adalah gudangnya moral dan suara penjernih di tengah kegaduhan menjadi penuntun. Dengan jabatan tertinggi ini, para profesor tetap harus rendah hati. Jika ditanya orang mengapa harus rendah hati? Jawaban paling tinggi adalah karena Allah Swt suka orang yang rendah hati.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved