Kamis, 28 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Jembatan Apung Kepala Hiu: Inovasi dan Simbol Kepedulian Warga

Bireuen, berdiri sebuah karya unik yang kini menjadi ikon baru bagi masyarakat setempat, yakni “Jembatan Apung Kepala Hiu”.

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
HELMA, S.Pd., Guru SMA Negeri 1 Juli, Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Pantee Baro Kumbang, Kecamatan Peusangan, Bireuen 

HELMA, S.Pd., Guru SMA Negeri 1 Juli, Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Pantee Baro Kumbang, Kecamatan Peusangan, Bireuen

Di tepian sungai yang membelah Desa Pante Baro Kumbang, Kecamatan Peusangan, Kabupaten

Bireuen, berdiri sebuah karya unik yang kini menjadi ikon baru bagi masyarakat setempat, yakni “Jembatan Apung Kepala Hiu”.

Jembatan ini bukan sekadar sarana penyeberangan, melainkan simbol ide dan kreativitas, serta semangat bangkit dari keterbatasan. Dengan daya tampung mencapai 2 ton, jembatan ini menjadi jalur alternatif setelah hilangnya jembatan utama di Pante Lhong yang selama ini menjadi penghubung antara Kecamatan Peusangan dan Kecamatan Siblah Krueng.

Jembatan utama di Pante Lhong hilang disapu banjir bandang 26 November 2025. Alhasil, mobilitas warga setempat lumpuh total.

Dalam situasi itu, muncul sosok Muakhir SHut, warga setempat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan inisiatif pribadi dia ajak beberapa warga yang memiliki lahan atau kebun yang melintasi arah menuju jembatan tersebut—walaupun lahannya disewa—untuk membangun jembatan

apung yang kini dikenal dengan nama Jembatan Apung Kepala Hiu.

Pembangunan jembatan ini bukan proyek besar dengan dana pemerintah, melainkan hasil kerja keras dan kreativitas lokal.

Akan tetapi, yang menjadi alasan utama dibangunnya Jembatan Kepala Hiu adalah berawal dari serangkaian kejadian tragis yang menimpa warga. Sebelum adanya jembatan ini, satu-satunya

sarana penyeberangan ketika jembatan bailey Kutablang ditutup adalah getek sederhana yang sering terbawa arus sungai yang deras. Beberapa kali getek tersebut terbalik, bahkan menelan korban jiwa.

Musibah yang menyayat hati itu menjadi dorongan kuat bagi Muakhir untuk menciptakan solusi yang lebih aman bagi masyarakat setempat.

Sejak resmi digunakan pada  Mei 2026, jembatan ini menjadi denyut baru bagi kehidupan masyarakat sekitar. Aktivitas ekonomi kembali menggeliat, anak-anak dapat bersekolah tanpa rasa takut, dan hubungan antarwarga kembali terjalin erat.

Filosofi di balik desain

Nama “Kepala Hiu” bukan tanpa alasan. Jika dilihat dari tepi sungai, bentuk jembatan ini memang menyerupai barisan ikan hiu besar yang sedang berjemur di permukaan air, dengan bagian kepalanya menonjol ke atas. Desain ini bukan hanya estetis, tetapi juga memiliki fungsi struktural karena konstruksi jembatan apung dilakukan dengan merangkai sejumlah drum titan

pada bagian bawah struktur sebagai sistem pelampung utama.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved