Kupi Beungoh
Dayah dan Tantangan Pembinaan Karakter di Era Digital
Sebentar lagi tahun ajaran dimulai. Menjelang tahun ajaran baru, masyarakat saat ini sering kali disuguhi berbagai pemberitaan mengenai dunia pendidi
Dalam konteks inilah dayah atau pondok pesantren masih memiliki posisi penting.
Selama berabad-abad, lembaga pendidikan ini menjadi tempat pembinaan ilmu pengetahuan, akhlak, kedisiplinan, dan pembentukan karakter.
Banyak tokoh agama, pemimpin masyarakat, ulama, pendidik, bahkan pejabat publik yang lahir dari lingkungan pendidikan dayah.
Sejarah mencatat, kontribusi ulama dan santri dayah atau pondok pesantren menuju Kemerdekaan dan membentuk karakter bangsa tidak dapat dilupakan, walaupun harus diakui terjadi pergeseran dan perubahan di tengan tuntutan zaman, ini bukan berarti membenarkan semua kesalahan dilakukan lembaga pendidikan, namun jika dalam dunia pendidikan saja dianggap terjadi kegagalan, bagaimana mungkin karakter terbentuk ditengah arus transformasi digital yang tidak semua dapat disaring.
Baca juga: Kebangkitan Tradisi Menulis Teungku Dayah
Pendidikan merupakan bagian ikhtiar sebagai pembentukan karakter, namun tidak semata-mata kegagalan sebagian kecil lembaga pendidikan menjadi alasan penilaian secara menyeluruh terhadap seluruh lembaga pendidikan keagamaan.
Albert Bandura dalam teorinya menjelakan seseorang belajar melalui pengamatan dan peniruan terhadap perilaku yang ada di sekitarnya.
Dalam kehidupan dayah, santri setiap hari menyaksikan kegiatan, melaksanakan ibadah berjamaah, menjaga disiplin waktu, serta berinteraksi dalam budaya yang mengedepankan akhlak dan adab.
Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan secara berulang ini lambat laun menjadi bagian dari dirinya.
Pandangan ini juga sejalan dengan konsep habitus dari Pierre Bourdieu yang menjelaskan bahwa lingkungan dan praktik yang terus-menerus dilakukan akan membentuk pola pikir, sikap, dan karakter seseorang.
Kajian dan tulisan mengenai pentingnya lingkungan dalam membentuk karakter telah banyak dihasilkan oleh para akademisi, pemerhati pendidikan, psikolog, dan tokoh pesantren.
Hampir seluruhnya sampai pada satu kesimpulan yang sama, yaitu bahwa manusia tidak dibentuk oleh nasihat semata, tetapi oleh kebiasaan yang dijalani setiap hari.
Namun demikian, tidak berarti dayah adalah lembaga yang sempurna dan bebas dari kekurangan. Sebagaimana lembaga pendidikan lainnya, dayah juga menghadapi berbagai tantangan.
Ada keterbatasan sarana, keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan pembiayaan, hingga berbagai persoalan yang muncul seiring perkembangan zaman.
Mengakui adanya kekurangan bukan berarti merendahkan dayah, melainkan bagian dari upaya untuk terus melakukan perbaikan.
Justru karena dayah adalah lembaga yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat, maka kritik dan evaluasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sarkawi-12062026.jpg)