Opini
Hijrah dan Kebangkitan Aceh
SETIAP datangnya 1 Muharram, umat Islam diingatkan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perubahan arah hidup.
Amanah keislaman
Islam memerintahkan kepedulian terhadap fakir miskin, anak yatim, orang lemah, dan kelompok rentan. Dalam Al-Qur’an, kesalehan tidak pernah dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Surah Al-Ma'un mengingatkan bahwa pendusta agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Ini pesan yang sangat kuat. Keberagamaan yang benar harus melahirkan kepedulian sosial.
Karena itu, Aceh bangkit berarti Aceh mampu menurunkan kemiskinan, membuka lapangan kerja, memperkuat UMKM, mengembangkan ekonomi halal, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memperluas akses ekonomi bagi masyarakat kecil. Kesejahteraan bukan semata target teknokratis pemerintah, melainkan amanah keislaman.
Aceh memiliki instrumen sosial-ekonomi yang sangat kuat: zakat, infak, sedekah, wakaf, koperasi syariah, pertanian produktif, ekonomi pesantren, dan UMKM halal. Baitul Mal Aceh melaporkan bahwa pada 2024 berhasil mengumpulkan zakat dan infaq sebesar Rp95,5 miliar. Pada 2025, Baitul Mal Aceh menyalurkan zakat dan infaq sebesar Rp107,296 miliar kepada 40.132 mustahik dan penerima manfaat di seluruh Aceh.
Angka ini menunjukkan bahwa filantropi Islam di Aceh memiliki potensi besar. Jika dikelola secara transparan, produktif, terukur, dan berkelanjutan, zakat dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk mengurangi kemiskinan. Namun zakat tidak boleh hanya berhenti sebagai bantuan konsumtif. Zakat perlu diarahkan juga pada pemberdayaan: modal usaha kecil, pelatihan keterampilan, pendampingan UMKM, pembiayaan mikro syariah, beasiswa anak miskin, dan penguatan ekonomi keluarga.
Baitul Mal Aceh juga memiliki program bantuan usaha berbasis individu dengan kriteria penerima dari kelompok miskin, usia produktif, memiliki tanggungan keluarga, dan menjalankan usaha sebagai sumber utama penghasilan. Model seperti ini penting karena mendorong mustahik tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hamdani-Hamid-Mahasiwa-Magister-Ilmu-Politik-Universitas-Muhammadiyah-Jakarta_2026.jpg)