KUPI BEUNGOH
Butuh Penataan Ulang Program MBG Demi Kualitas Pendidikan Nasional
Secara konsep MBG ini bagus, niatnya baik dan mulia arahnya jelas, program yang diawali dari niat yang baik sebagai proyek sosial bukan bisnis.
Maka sudah seharusnya BGN menghentikan dapur SPPG yang tidak terverifikasi dan melanjutkan yang sudah baik, baru kemudian fokus kepada peningkatan kualitas makanan dengan melibatkan kantin sekolah dan warga setempat.
Hal ini bisa mengurangi beban anggaran namun tetap memperhatikan kualitas yang diinginkan dalam standar perbaikan gizi anak.
Dari beberapa kasus, bisa kita lihat yang seharusnya porsi dan potongan menu seperti ayam dengan potongan besar menjadi kecil serta porsi yang secara standar bahkan kurang memenuhi gizi anak.
Data Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan pada 28 Februari 2026 mencatat, bahwa 47 kasus SPPG itu terdistribusi di tiga wilayah kerja.
Wilayah I mengalami 5 kejadian, Wilayah II mengalami 30 kejadian, dan Wilayah III mengalami 12 kejadian.
Hasil di lapangan dianggap mengkhawatirkan.
Di antaranya terdapat roti berjamur, buah yang membusuk dan berulat, lauk yang sudah basi, telur mentah atau busuk, serta makanan yang dianggap tidak memenuhi standar kualitas.
Tentu hal ini menjadi miris ditengah gonjang-ganjing dan perdebatan yang cukup serius di ruang publik, menimbulkan sentimen negatif yang cukup parah di tengah-tengah masyarakat.
Sehingga perlu adanya penataan ulang, verifikasi dan kolaborasi serta penyesuaian kembali di tingkat paling bawah yaitu sekolah.
Agar penataan ini berjalan maka perlu melibatkan kantin sekolah, disamping dilakukannya efisiensi anggaran karena tujuan utamanya adalah kualitas bukan kuantitas pengadaan.
Pemerintah setempat juga harus melibatkan ahli gizi untuk melibatkankan pembekalan dan pengawasan ketat di masing-masing daerah
Utamakan Daerah 3T
Efektivitas sebuah program berjalan dengan baik bukan dilihat dari kuantitas yang sudah berhasil dicapai akan tetapi kualitas yang menjadi tujuan utama.
Maka sudah seharusnya pemerintah mengalihkan program MBG ini untuk anak di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan ,dan Terluar).
Wilayah ini sangat penting mengingat kondisi geografi, ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga infrastruktur dan lapangan pekerjaan yang sangat membutuhkan program MBG ini.
Wilayah kategori maju dan minim angka stunting, apalagi di daerah perkotaan dan sekolah elit, sebaiknya ditiadakan saja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/penulis-opini-Putra-Kaslin.jpg)