Pojok Humam Hamid
Gencatan Senjata Perang Iran: Menangkah Amerika Serikat?
Ketika tujuan perang gagal dicapai, mereka berbicara tentang kompleksitas. Ketika kemenangan tidak terlihat, mereka meminta
Mungkin benar.
Tetapi itu bukanlah tujuan yang diumumkan.
Yang diumumkan adalah tidak ada lagi ancaman nuklir Iran.
Tidak ada lagi.
Selesai.
Tuntas.
Namun jika setelah perang masih diperlukan negosiasi, inspeksi, pengawasan, verifikasi, dan berbagai mekanisme lain untuk memastikan apa yang terjadi pada program nuklir Iran, maka tujuan tersebut belum tercapai.
Baca juga: VIDEO Iran Balas Dendam Serang Sektor Air AS seusai Fasilitas Teheran Diserang
Kita tidak sedang membahas apakah program itu melemah.
Kita sedang membahas apakah ancaman itu berakhir.
Keduanya bukan hal yang sama.
Inilah titik di mana banyak perdebatan publik mulai kehilangan kejujuran intelektualnya.
Terlalu banyak analis yang mencoba menggeser standar evaluasi setelah fakta.
Sebelum perang, standar yang digunakan adalah maksimal.
Sesudah perang, standar yang digunakan menjadi minimal.
Baca juga: Sama-sama Musuhi Amerika, Warga Meksiko Dukung Penuh Iran di Piala Dunia 2026
Sebelum perang, tujuan yang diumumkan adalah transformasi Timur Tengah.
Sesudah perang, tujuan yang dibicarakan adalah membuka kembali jalur pelayaran.
Sebelum perang, tujuan yang dipromosikan adalah mengakhiri ancaman Iran.
Sesudah perang, tujuan yang dibela adalah menciptakan ruang diplomasi.
Itulah yang oleh sejarawan disebut sebagai pergeseran tiang gawang.
Tujuan dipindahkan setelah pertandingan selesai.
Baca juga: VIDEO Israel Minta Bantuan ke Amerika Bantu Atasi Serangan Drone Mematikan Hizbullah
Namun sejarah tidak bekerja seperti itu.
Dalam sejarah, perang selalu dinilai berdasarkan tujuan yang diumumkan ketika perang dimulai.
Abraham Lincoln dinilai berdasarkan penyelamatan Persatuan Amerika Serikat.
Franklin D. Roosevelt dinilai berdasarkan kekalahan Blok Jerman-Jepang-Italia.
George H. W. Bush dinilai berdasarkan pembebasan Kuwait.
Mereka tidak dinilai berdasarkan tujuan alternatif yang ditemukan setelah perang berakhir.
Mereka dinilai berdasarkan tujuan yang mereka sendiri tetapkan.
Donald Trump seharusnya tidak mendapatkan standar yang berbeda.
Mendominasi Medan Tempur
Di sinilah muncul argumen yang sering diajukan oleh para pembela perang. Mereka mengatakan bahwa Amerika Serikat tetap menang karena mendominasi medan tempur.
Pernyataan itu mungkin benar.
Tetapi dominasi medan tempur bukanlah hal yang sama dengan kemenangan strategis.
Baca juga: Menembus Belantara dan Bermalam Sebulan, Kisah Perjalanan Yusuf Nago Melahirkan Rapai Tualang Rimba
Sejarah penuh dengan contoh negara yang memenangkan pertempuran namun gagal memenangkan perang.
Inggris memenangkan banyak pertempuran di Amerika Utara pada abad ke-18. Namun akhirnya kehilangan koloni.
Uni Soviet memenangkan banyak operasi militer di Afghanistan. Namun akhirnya pergi.
Amerika memenangkan sebagian besar pertempuran besar di Vietnam. Namun tujuan politiknya tidak tercapai.
Kemenangan taktis dan kemenangan strategis adalah dua hal yang berbeda.
Sayangnya banyak orang mencampurkan keduanya.
Amerika Serikat tidak kalah secara militer dalam perang Iran.
Tetapi pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah Amerika Serikat menang secara strategis.
Jawabannya jauh lebih sulit.
Baca juga: Syech Muharram Minta DPR RI Perjuangkan Pengembalian Tanah Blang Padang
Bahkan sejumlah media Barat yang biasanya tidak bersimpati pada Iran menunjukkan keraguan yang sama.
Financial Times berbicara tentang tidak adanya pemenang yang jelas.
The Economist menggambarkan kesepakatan itu sebagai awal dari proses panjang, bukan akhir yang menentukan.
BBC menyoroti bahwa persoalan inti masih belum terselesaikan.
Bahkan sejumlah media Amerika mempertanyakan apakah hasil akhir benar-benar sebanding dengan tujuan awal yang diumumkan kepada publik.
Ini bukanlah propaganda Iran.
Ini bukanlah retorika anti-Amerika.
Ini adalah pertanyaan yang muncul di jantung media Barat sendiri.
Dan pertanyaan itu sangat sederhana.
Jika tujuan perang adalah A, B, dan C, sementara hasil akhirnya bukan A, bukan B, dan belum tentu C, bagaimana perang itu bisa disebut kemenangan?
Baca juga: Daftar Anak Saat Usia 13 Tahun, ASN Disbudpar Aceh Ini Berhaji Sekeluarga, Ini Kisah di Tanah Suci
Tentu saja ada sisi lain dari cerita ini.
Iran juga tidak menang mutlak.
Ekonominya mengalami tekanan.
Infrastrukturnya rusak.
Kemampuan militernya menurun.
Pengaruh regionalnya melemah.
Harga yang dibayar Iran sangat mahal.
Namun di sinilah muncul ironi besar yang sering ditemukan dalam sejarah geopolitik.
Bagi negara yang menjadi sasaran penghancuran, bertahan hidup sering kali sudah cukup untuk mengklaim kemenangan.
Hal itu pernah terjadi pada Inggris dalam Perang Dunia Kedua setelah jatuhnya Prancis.
Hal itu terjadi pada Vietnam Utara.
Hal itu terjadi pada Taliban.
Dan kini banyak orang di Teheran percaya bahwa hal serupa terjadi pada mereka.
Mereka tidak mengalahkan Amerika.
Mereka tidak menghancurkan Amerika.
Mereka hanya bertahan.
Tetapi jika tujuan lawan adalah menjatuhkan Anda dan Anda tetap berdiri, maka secara politik Anda telah menggagalkan tujuan lawan.
Baca juga: VIDEO 140 Dosen Pemula di Aceh Ikut Peningkatan Kompetensi di UIN Ar-Raniry
Inilah alasan mengapa narasi kemenangan Amerika terdengar kurang meyakinkan dibandingkan yang dibayangkan banyak orang beberapa bulan lalu.
Karena kemenangan sejati tidak memerlukan penjelasan yang rumit.
Ketika Sekutu memenangkan Perang Dunia Kedua, tidak ada yang bertanya siapa yang menang.
Ketika Kuwait dibebaskan pada tahun 1991, tidak ada yang memperdebatkan hasilnya.
Ketika tujuan perang tercapai, kemenangan terlihat jelas.
Justru ketika kemenangan harus dijelaskan dengan paragraf demi paragraf, grafik demi grafik, dan redefinisi demi redefinisi, publik patut bertanya apakah yang sedang dijelaskan itu benar-benar kemenangan.
Maka kembali pada pertanyaan awal.
Baca juga: Ketua Komisi II DPRK Aceh Jaya Desak Percepatan Penetapan WPR Usai Tiga Penambang Tewas
Menangkah Amerika Serikat?
Jika yang dimaksud adalah menunjukkan superioritas militer, jawabannya ya.
Jika yang dimaksud adalah menghancurkan sebagian kemampuan lawan, jawabannya ya.
Jika yang dimaksud adalah memaksa dimulainya kembali diplomasi, mungkin juga ya.
Namun jika yang dimaksud adalah mencapai tujuan yang diumumkan kepada publik pada awal perang - penyerahan total, perubahan rezim, dan berakhirnya ancaman nuklir Iran - maka jawabannya jauh lebih tidak nyaman.
Dalam ukuran itu, Amerika Serikat tampaknya tidak memenangkan perang yang dijanjikannya.
Dan dalam sejarah, perbedaan antara perang yang dimenangkan dan perang yang dijanjikan sering kali menentukan bagaimana generasi berikutnya akan mengingatnya.(*)
*) PENULIS adalah Sosiolog dan mantan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
| “Rebel” to “Ruler”: Refleksi dan Kontemplasi tentang Zaini Abdullah |
|
|---|
| Zaini Abdullah: Seorang Dokter yang Menyeberangi Sejarah |
|
|---|
| Ketimpangan Wilayah dan Sumber Daya: Akankah UTU Menjadi Transformator Barsela? |
|
|---|
| Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh |
|
|---|
| Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Humam-Hamid-20260411.jpg)