Kupi Beungoh
Islam Kontemporer: Dari Ortodoksi ke Transformasi Sosial
Metode ini sebetulnya logis. Tapi banyak yang resisten. Karena dianggap terlalu berani. Menggeser tafsir literal ke tafsir moral.
Atau bagaimana fatwa keagamaan mengarahkan masyarakat pada keadilan sosial, bukan sekadar mengatur cara berpakaian.
Saya percaya, tantangan besar Islam abad ini bukan lagi soal teologi, tapi soal praksis sosial. Bukan lagi soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling peduli.
Islam kontemporer harus hadir di jalan itu. Dari ortodoksi menuju transformasi sosial. Dari sekadar menjaga masa lalu, menuju merancang masa depan.
Dan kalau ada yang bertanya: apakah itu masih Islam?
Jawabannya sederhana. Islam selalu bergerak. Dari Mekah ke Madinah. Dari tradisi ke peradaban. Dari teks ke konteks.
Maka, Islam kontemporer bukanlah pengkhianatan. Ia justru kesetiaan. Kesetiaan pada semangat awal Islam: Rahmatan lil ‘alamin. (*)
*) PENULIS adalah Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Pengajar Sosiologi Hukum dan Pemikiran Hukum Islam.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pengajar-Sosiologi-Hukum-dan-Pemikiran-Hukum-Islam-Alwy-Akbar-Al-Khalidi-SH-MH.jpg)