Kupi Beungoh
Islam Kontemporer: Dari Ortodoksi ke Transformasi Sosial
Metode ini sebetulnya logis. Tapi banyak yang resisten. Karena dianggap terlalu berani. Menggeser tafsir literal ke tafsir moral.
Padahal, yang satu sedang terjebak ortodoksi. Yang lain mencoba membuka jalan transformasi.
Islam kontemporer mengajarkan bahwa agama tidak boleh berhenti pada teks. Ia harus menembus realitas. Tidak cukup hanya dengan hukum halal-haram.
Ia harus menjawab pertanyaan lebih besar: bagaimana menghadirkan keadilan? bagaimana mengurangi kesenjangan? bagaimana melawan korupsi yang merajalela?
Di sinilah letak relevansinya. Kita tidak bisa lagi puas dengan Islam yang sekadar normatif. Kita butuh Islam yang solutif.
Fazlur Rahman tentu bukan satu-satunya. Hassan Hanafi misalnya, menekankan perlunya al-turats wa al-tajdid—tradisi dan pembaruan.
Abu Zayd bicara tentang teks yang selalu hidup dalam ruang sosial. Di Indonesia, ada Cak Nur dengan jargon “Islam Yes, Partai Islam No”. Ada Gus Dur dengan pluralisme yang humanis.
Semua pemikir itu punya satu keresahan yang sama: jangan biarkan Islam berhenti menjadi dokumen mati. Islam harus hadir sebagai kekuatan moral dan sosial.
Sayangnya, tantangan hari ini semakin pelik. Era digital melahirkan ustaz-ustaz instan. Satu menit di TikTok, bisa menggeser tafsir ulama ratusan tahun. Yang penting viral, bukan valid.
Di titik ini, saya ingin katakan: Islam kontemporer harus lebih lantang bicara. Kalau tidak, ruang publik akan penuh dengan teriakan kerdil. Islam akan direduksi hanya jadi komoditas konten.
Tentu ada risiko. Setiap pembaruan selalu dituduh sesat. Fazlur Rahman sendiri pernah ditolak di negerinya. Sampai akhirnya harus hijrah ke Amerika.
Tapi bukankah Islam sejak awal memang penuh risiko? Nabi Muhammad pun ditolak mayoritas kaumnya.
Pertanyaannya: apakah umat Islam hari ini berani mengambil risiko itu?
Kalau kita terus nyaman di zona ortodoksi, Islam akan mandek. Ia akan jadi ritual yang suci, tapi tidak relevan. Kalau kita berani masuk ke ranah transformasi, Islam bisa kembali segar. Menjadi sumber inspirasi, bukan sumber konflik.
Islam kontemporer bukan sekadar teori. Ia seharusnya menjadi gerakan.
Misalnya, bagaimana pesantren mengajarkan ekoteologi, mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kesadaran lingkungan.
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pengajar-Sosiologi-Hukum-dan-Pemikiran-Hukum-Islam-Alwy-Akbar-Al-Khalidi-SH-MH.jpg)