Pojok Humam Hamid
MSAKA21: Indrapurwa, Bayangan Kota Tua di Hutan Aceh - Bagian X
Maka Indrapurwa bisa dibaca sebagai “permulaan kota Indra,” kota suci pertama dalam kosmos Hindu di tanah Aceh.
Bisa jadi Indrapurwa adalah fase awal, kota pertama dalam tradisi Hindu di Aceh.
Kemudian, ketika kosmos itu mapan, muncullah Indrapuri, kota Indra yang lebih besar, lebih strategis, lebih politik.
Dengan kata lain, Indrapurwa adalah pendahulu yang dilupakan, sementara Indrapuri menjadi penerus yang tetap dipakai.
Jika benar demikian, maka hilangnya Indrapurwa bukan kebetulan, melainkan bagian dari logika sejarah.
Kota awal sering kali dilupakan ketika kota baru menggantikannya.
Seperti Kusala digantikan oleh Mathura- di negara bagian Uttar Pradesh di India, atau Shahjahanabad-Old Delhi , pada masa Islam Mughai India, menjadi New Delhi yang dibangun Ingris pada 1931 .
Kota awal menjadi purwa—hanya permulaan, bukan puncak.
Indrapurwa, meski hilang, tetap penting sebagai simbol.
Ia mengingatkan bahwa Hindu di Aceh bukan hanya tempelan kecil, melainkan pernah punya kota, punya pusat, punya klaim kosmos.
Ia juga menegaskan bahwa Islam Aceh berdiri di atas reruntuhan itu.
Ketika orang Aceh hari ini mengklaim diri sebagai Serambi Mekah, sering kali mereka lupa bahwa serambi itu dulu pernah juga menjadi puri Indra.
Batu mungkin hilang, kota mungkin terkubur, tetapi nama Indrapurwa tetap menyalakan jejak memori.
Aceh pernah menjadi bagian dari kosmos Hindu, sebelum ia menjadi Islam.
Dalam segitiga Indrapurwa–Indrapuri–Indrapatra, kita melihat tiga wajah sejarah Aceh.
Indrapatra di pesisir, benteng pertahanan.
Indrapuri di lembah sungai, pusat politik dan sakral;
Indrapurwa di pedalaman, kota awal yang kini hilang.
Jika ditata seperti mozaik, Indrapurwa adalah fondasi tersembunyi.
Indrapuri adalah panggung yang masih berdiri, sementara Indrapatra adalah tembok di tepi laut.
Bersama-sama, ketiganya membuktikan bahwa Aceh pra-Islam tidak kosong.
Ia adalah bagian dari jaringan Hindu–India yang luas, dan Islam tidak masuk ke tanah kosong, melainkan ke tanah yang sudah punya kosmos sendiri.
Indrapurwa mungkin tidak akan pernah ditemukan utuh.
Bisa jadi ia sudah menjadi hutan, atau sungai sudah menghapusnya.
Baca juga: VIDEO - MAPESA Bergerak: Rawat dan Lestarikan Jejak Sejarah Aceh di Pidie
Tetapi hilangnya tubuh tidak menghapus makna.
Nama Indrapurwa adalah bukti bahwa Hindu di Aceh pernah begitu kuat hingga melahirkan kota sakral.
Jika Indrapuri adalah batu yang bicara, maka Indrapurwa adalah hantu yang berbisik.
Dan sering kali, bisikan hantu justru lebih mengganggu ketenangan kita daripada suara batu.
Dalam sejarah Aceh, Indrapurwa adalah bisikan tentang asal-usul.
Bahwa Islam Aceh tidak lahir murni, melainkan menumpang pada kota-kota Indra yang lebih dulu ada.
Dan itulah pelajaran paling penting.
Peradaban selalu bertumpuk dan berlapis. Bahkan kota yang hilang pun tetap menopang identitas hari ini.
Akhirnya apa yang menarik tentang Indrapurwa, Indrapuri, dan Indrapatra?
Aceh Lhei Sagoe
Ketika kerajaan Aceh mulai berdiri dan berlanjut selama 4 abad, ada istilah Aceh Lhei Sagoe, Aceh Segi Tiga yang letaknya di Aceh Besar.
Aceh Lee Sagoe itu adalah wilayah adaministratif Kerajaan Aceh yang terdiri dari Sagoe -Sagi XXII, Sagoe -Sagi XXV, dań Sagoe -Sagi XXVI.
Uniknya ketiga Sagoe itu, setiap Sagoe-sagi terdapat tiga peninggalan Hindu itu. Indrapuri di Sagoe XXII, Indrapatra di Sagoe XXV, dan Mesjid Indrapurwa di Sagoe XXVI.
Memang, dalam tradisi Hindu, angka 3 memegang peran penting, tercermin dalam konsep Trimurti, -Dewa Brahma, Vishnu, dan Shiwa.
Dalam realitas praktik Hindu, konsep ini tidak terbatas pada dimensi teologi saja, tetapi juga tercermin dalam struktur sosial administratif, seperti dalam pembagian wilayah kerajaan.
Adopsi prinsip tripartit kemudian seringkali digunakan dalam struktur wilayah yang dikaitkan dengan kosmos Hindu.
Apakah prinsip angka 3 Hindu itu kemudian diadopsi oleh raja-raja Aceh? Jawabannya, bukan tidak mungkin.(*)
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Artikel dalam rubrik Pojok Humam Hamid ini menjadi tanggung jawab penulis.
| Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional |
|
|---|
| JKA, Senyar, dan Otsus: Ujian Serius atau Kembali “Lagee Biasa”? |
|
|---|
| Tenaga Kerja Aceh: Dominasi Sektor Informal, TPT, dan Indikator Tak Sehat Lainnya |
|
|---|
| Siapa Mengendalikan Pertumbuhan Banda Aceh-Aceh Besar? |
|
|---|
| Perang Iran, Pupuk, dan Piring Nasi Kita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ahmad-Humam-Hamid-perang-tarif.jpg)