KUPI BEUNGOH
Bedrotting: Antara Istirahat, Pelarian dan Ancaman Kesehatan Mental
Bedrotting bukanlah musuh mutlak. Ia bisa menjadi cara tubuh memberi sinyal bahwa kita butuh istirahat.
Bedrotting kronis → dilakukan hampir setiap hari, disertai rasa enggan berinteraksi dengan orang lain, produktivitas menurun, bahkan muncul pikiran negatif.
Bedrotting jenis kedua inilah yang berbahaya. Ia bukan lagi sekadar istirahat, melainkan sinyal adanya masalah mental yang lebih serius.
Jalan Keluar: Bangkit dari Jeratan
Meski tampak sulit, siklus bedrotting dan infinite scrolling bisa diputus. Beberapa langkah praktis berikut bisa dicoba:
- Atur Timer Digital Detox: Gunakan alarm atau aplikasi pembatas layar. Membatasi waktu menatap ponsel menjadi langkah awal yang krusial.
- Mulai dari Aktivitas Kecil: Minum air, bereskan kasur, atau mandi. Aktivitas sederhana bisa memicu otak untuk keluar dari mode pasif.
- Rancang Target Realistis: Jangan langsung menuntut diri produktif penuh. Mulailah dengan jalan 10 menit, membaca 5 halaman buku, atau menyelesaikan 1 tugas kecil.
- Cari Dukungan Sosial: Ceritakan kondisi pada teman, keluarga, atau komunitas. Dukungan sosial terbukti memberi energi positif untuk bangkit.
- Sadari Sinyal Tubuh: Bedakan antara lelah sehat (butuh istirahat) dengan lelah tidak sehat (pelarian dari stres). Kesadaran ini membantu kita lebih bijak menentukan kapan perlu rebahan, kapan harus bergerak.
- Bangun Rutinitas Positif: Olahraga ringan, journaling, atau meditasi bisa menjadi alternatif coping mechanism yang lebih sehat dibanding tenggelam di kasur dan layar.
Refleksi
Bedrotting bukanlah musuh mutlak. Ia bisa menjadi cara tubuh memberi sinyal bahwa kita butuh istirahat.
Tetapi, ia juga bisa berubah menjadi jebakan yang melemahkan bila dilakukan terus-menerus dan ditemani infinite scrolling.
Generasi muda hari ini menghadapi tekanan psikososial yang nyata. Wajar jika tubuh sesekali menuntut jeda.
Namun, healing sejati bukan hanya tentang rebahan, melainkan juga tentang bagaimana kita menata pola hidup, membangun dukungan sosial, serta memberi ruang bagi tubuh, pikiran, dan jiwa untuk benar-benar pulih.
Karena itu, mari berhati-hati: jangan sampai bedrotting yang kita kira sebagai bentuk self-care justru berubah menjadi jeratan tak kasat mata.
Merawat diri memang penting, tapi cara kita merawat diri harus benar-benar memberi energi untuk bangkit, bukan sekadar menunda permasalahan yang ada.
*) PENULIS adalah Praktisi Kesehatan Mental & Direktur Eksekutif GEN-A.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
| Adat ngon Hukom Tata Kelola Pemerintah Aceh: Hana Lagee Zat ngon Sifeut? |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 8, Mendorong Terwujudnya Damai yang Tertunda |
|
|---|
| Nyak Sandang dan Pesawat dari Lamno: Ketika Cinta Tanah Air Dibayar dengan Emas Istri |
|
|---|
| Kebiasaan Mengacungkan Jari Tengah pada Anak: Alarm Darurat Pendidikan Karakter di Era Digital |
|
|---|
| Ketika Uang Mengendap, Kesehatan Dipangkas: Paradoks Anggaran Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Imam-Maulana-Direktur-Direktur-Eksekutif-GEN-A.jpg)