KUPI BEUNGOH
Aceh Barat-Selatan Butuh FK UTU Sekarang
FK UTU bukan sekadar membuka program studi kedokteran baru, tetapi menjadi motor lahirnya sebuah Academic Health System pelayanan kesehatan...
2. Rumah Sakit pendidikan. RS Regional Meulaboh harus segera ditetapkan sebagai satelit RSUDZA, sekaligus dipenuhi standar Rumah Sakit pendidikan: keberadaan ICU, komponen bank darah , kamar operasi berstandar akademik, dan sistem informasi rumah sakit yang terintegrasi.
3. Dosen dan jejaring akademik. Dosen klinik dari RSUDZA dapat diperbantukan sebagai affiliate lecturer, diperkuat dengan skema visiting professorship dari kampus mitra nasional. Bahkan, program residensi satelit bisa langsung dijalankan untuk mempercepat alih pengetahuan dan keterampilan.
4. Pendanaan terpadu. Dukungan keuangan perlu dihimpun melalui kombinasi APBN, APBA, dana Otsus, hingga kemitraan dengan BSI. Dana tersebut diarahkan untuk pengadaan alat kritikal (ventilator, blood warmer, ICU) sekaligus investasi sumber daya manusia (beasiswa, insentif dosen klinik, dan pendanaan riset awal).
Bagi sebagian orang, pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Teuku Umar mungkin hanya terlihat sebagai proyek pendidikan semata.
Padahal, sesungguhnya ini adalah intervensi kebijakan kesehatan publik. Kita sedang berbicara tentang nyawa pasien dan ibu-ibu di ujung barat Nusantara, yang selama ini dipertaruhkan di jalan raya.
Tanpa FK UTU, krisis akan terus berulang: pasien Kritis, ibu hamil dalam kondisi darurat harus menempuh rujukan jauh, dan kerap tiba di Rumah Sakit dalam keadaan too late to rescue.
Dengan berdirinya FK UTU sebagai jangkar Academic Health System (AHS) Barat-Selatan Aceh, lingkaran tragis itu dapat diputus.
RS Regional Meulaboh dihidupkan kembali sebagai pusat rujukan dan dijadikan sebagai Rumah Sakit pendidikan, tenaga spesialis lebih terjaga melalui jejaring akademik, mahasiswa kedokteran tumbuh dari lokalitas, dan masyarakat akhirnya memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa harus mempertaruhkan nyawa di perjalanan panjang.
Penutup
Kematian seorang ibu hamil akibat gagal rujukan dari Nagan Raya harus dibaca sebagai alarm keras.
Jalan berliku yang ditempuh bukan sekadar jarak geografis, melainkan simbol lebar jurang antara idealitas sistem kesehatan dan kenyataan di lapangan.
Kini keputusan ada di tangan pemerintah pusat dan daerah.
Presiden Prabowo perlu segera meresmikan FK UTU sebagai prioritas nasional, sementara Pemerintah Aceh wajib mengaktifkan kembali Rumah Sakit Regional Meulaboh sebagai hub rujukan kritis.
Inilah solusi struktural yang bukan hanya menyelamatkan nyawa pasien, ibu hamil dan bayi, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan kesehatan jangka panjang.
Aceh tidak lagi membutuhkan janji, melainkan tindakan nyata. Pembukaan Fakultas Kedokteran Universitas Teuku Umar adalah jawabannya. Membangun dari Barat-Selatan Aceh, menyelamatkan generasi, dan memastikan bahwa jalan panjang tidak lagi menjadi jalan kematian. (email:rajuddin@usk.ac.id)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ProfDrdr-Rajuddin-SpOGKSubspFER-Guru-Besar-Universitas-Syiah-Kuala.jpg)