Kupi Beungoh
Seabad World Animal Day: Selamatkan Hewan, Selamatkan Planet!
Perayaan World Animal Day (WAD) pertama kali dicetus pada tahun 1925 oleh Heinrich Zimmerman, seorang penulis dan aktivis pelindung hewan.
Sejatinya kesrawan adalah tanggung jawab manusia selaku pemilik hewan, bahkan kedudukannya sebagai sesama makhluk Allah untuk memastikan hewan apapun jenisnya mendapatkan haknya.
Kesrawan berimbas pada masalah kesehatan, baik kesehatan hewan sendiri maupun kesehatan manusia.
Semakin sejahtera hewan dan tercukupi kebutuhannya, semakin sehat dan kuat dalam menghadapi berbagai penyakit.
Tak hanya penyakit yang menyerang sesama hewan, tapi juga yang bisa menular ke manusia (zoonosis).
Kesrawan juga terkait dengan lingkungan hidup hewan.
Semakin baik dan nyaman lingkungan hidupnya maka semakin terjaga kesehatannya.
Dewasa ini lebih dari 200 penyakit bersifat zoonosis.
Secara global, diperkirakan satu miliar kasus penyakit dan jutaan kematian setiap tahunnya diakibatkan oleh zoonosis.
Zoonosis tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan, tapi berimbas juga pada perekonomian, perdagangan, bahkan berdampak pada kenyamanan dalam beribadah.
Mewujudkan kesehatan global tidak hanya terpaku pada kesehatan manusia semata, tapi juga terkait erat dengan kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan.
Hewan yang sehat hanya bisa didapat bila hewan hidup sejahtera.
Di Eropa dan negara-negara maju lainnya, isu kesehatan dan kesrawan menjadi trending topic dan dijadikan hambatan non tarif dalam menolak masuk atau menunda suatu komoditi ternak atau hasil ternak yang tidak diinginkan.
Lebih-lebih jika komoditi tersebut dianggap sebagai media pembawa penyakit.
Di negara maju, sebuah produk ternak dihargai lebih jika proses produksinya menerapkan prinsip kesrawan.
Misal, telur ayam yang dihasilkan dari peternakan yang bebas kandang –dilepas alamiah- atau semi dikandangkan dihargai lebih mahal dibanding yang berasal dari peternakan intensif (dikandang).
Begitu juga produk peternakan lainnya.
Dibutuhkan upaya masif dalam mempromosikan kesrawan melalui sosialisasi, kampanye, dan pendidikan guna mendorong perbaikan standar hidup hewan sesuai habitatnya.
Momen perayaan WAD hendaknya menjadi pelecut dalam menumbuhkan kesadaran bersama bahwa dengan menyelamatkan hewan, kita juga menyelamatkan planet ini.
*) PENULIS adalah Alumnus Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel Kupi Beungoh lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kupi-Beungoh-Azhar-Abdullah-Panton.jpg)