Kupi Beungoh
Zoel Helmi: Guru Dayah Oemar Diyan Indrapuri yang Kuasai 7 Bahasa Dunia
Zoel Helmi mengusai 7 bahasa di dunia, yaitu Bahasa Inggris, Arab, Perancis, Jerman, dan Turki, selain Bahasa Indonesia dan Aceh tentunya.
Pemikiran itu mengubah arah hidupnya. Ia mulai mencintai bahasa Arab dan belajar dengan tekun hingga menguasainya.
Seiring waktu, kecintaannya pada bahasa meluas. Tahun 2006 ia mulai belajar bahasa Perancis setelah bertemu seorang warga Perancis di masjid.
Tidak puas sampai di situ, lalu pada tahun 2010 ia mendalami bahasa Jerman. Selanjutnya pada tahun 2013 menambah bahasa Turki ke dalam daftar kemampuan bahasanya.
Semua ia pelajari secara otodidak didorong oleh lingkungan Al-Azhar yang sangat mendukung. Ia pun berprinsip bahwa "segala hal itu akan mudah jika kita tertarik akannya".
Menurutnya, setiap bahasa punya tantangan berbeda. Bahasa Perancis menentang di pengucapan tetapi mudah di struktur bahasanya, sedangkan Jerman sebaliknya, sementara Turki itu terasa paling ringan karena memiliki pola yang mirip dengan bahasa Arab.
Hingga kini, urutan bahasa yang dikuasainya adalah Inggris, Arab, Prancis, Jerman, dan Turki, selain Bahasa Indonesia dan Aceh tentunya.
Bahkan kini ia sedang belajar bahasa isyarat (ILC) sebagai bentuk kepedulian terhadap komunikasi lintas keterbatasan.
Selama 9 tahun menempuh pendidikan di Mesir, ia belajar banyak hal. Bukan hanya bahasa tetapi juga makna dari kerja keras dan keikhlasan.
Ia menyelesaikan studi sarjana di Ushuluddin selama 6 tahun baginya alam semesta akan selalu merespon niat dan usaha seseorang.
"Kalau seseorang ingin memancing ikan tentu ia akan pergi ke laut bukan ke lapangan bola. Di situlah alam akan memberi bantuan: ada yang menawarkan perahu, jaring dan sebagainya," ujarnya memberi perumpamaan.
Kini, setelah kembali ke Aceh dan menjadi pendidik di pesantren, yang mengakui bahwa menjaga kemampuan bahasa asing cukup sulit karena tidak semua bahasa bisa dipraktikkan secara langsung.
Namun, ia tetap berusaha menjaga kemampuannya melalui interaksi daring dengan orang asing. Setiap kali berpergian, ia selalu percaya bahwa "alam akan merespon" niatnya untuk bertemu penutur bahasa lain dan anehnya hal itu memang sering terjadi.
Ustadz Zoel Helmi juga mengajarkan bahwa ilmu akan tetap hidup jika diajarkan. "Jika ingin menjaga ilmu yang kita miliki, maka carilah murid untuk membagikannya," katanya.
Ia kini mengajar bahasa Inggris di Pesantren Sulaimaniyah dan kadang menjadi guru privat bahasa asing secara daring. Dari situlah Ia terus melatih kemampuan berbahasannya.
Dalam pandangannya, seorang guru yang baik adalah mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan murid. Ia selalu menyesuaikan metode ajarnya agar setiap siswa merasa bahasa bukan beban, melainkan ekspresi diri.
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
| Rumah Sakit Iskandar Muda: Warisan Medis Belanda yang Lestari di Kutaraja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Raihana-Salsabilla-dan-Salsabila-Salwa-Jaisa.jpg)