Minggu, 3 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Inflasi: Pencuri yang tak Pernah Ditangkap

Dengan kata lain, inflasi bukan sekadar “kenaikan harga barang”, tetapi penurunan nilai uang itu sendiri.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/HO
Dr. Muhammad Nasir, Dosen Magister Keuangan Islam Terapan Politeknik Negeri Lhokseumawe; Peneliti Sosial Kemasyarakatan; Pembina Yayasan Generasi Cahaya Peradaban. 

Dalam teori, ya. Tapi dalam praktik, tidak sesederhana itu. Ketika suku bunga dinaikkan untuk menekan inflasi, beban utang meningkat, sektor riil melambat, dan investasi melemah. 

Namun ketika suku bunga diturunkan untuk menumbuhkan ekonomi, uang kembali mengalir deras ke pasar dan memicu kenaikan harga.

Paradoks inilah yang menjadikan bank sentral seperti pengendara yang menekan gas dan rem secara bersamaan. 

Mereka tahu arah yang dituju, tapi jalan yang dilalui penuh jebakan.

Lebih ironis lagi, sistem keuangan modern justru mendorong inflasi sebagai hal “normal”. 

Kenaikan harga 3–5 persen per tahun dianggap sehat, seolah penurunan nilai uang adalah keniscayaan yang harus diterima. 

Padahal, bagi masyarakat kecil, kenaikan harga sekecil apa pun berarti pengurangan gizi di piring, pengurangan tabungan pendidikan anak, atau tertundanya biaya pengobatan.

Emas: Penjaga Nilai yang Terlupakan

Sejarah membuktikan bahwa hanya satu instrumen yang mampu mempertahankan daya beli lintas zaman: emas

Sejak masa Rasulullah SAW, harga seekor kambing kurban adalah satu dinar (sekitar 4,25 gram emas).

Ajaibnya, hingga hari ini nilai tersebut relatif sama satu dinar emas masih bisa membeli satu kambing bahkah lebih.

Berbeda halnya dengan uang kertas. Dalam 50 tahun terakhir, nilai rupiah terhadap dolar telah tergerus ribuan kali. 

Nilai uang tak lagi menjadi penyimpan kekayaan, melainkan alat transaksi yang terus kehilangan makna.

Baca juga: Harga Emas Antam Mulai Bertenaga, Berikut Rincian Harga Emas Hari ini Senin 13 Oktober 2025

Negara-negara maju kini mulai sadar. Bank sentral Tiongkok, Rusia, hingga India membeli emas dalam jumlah besar dalam beberapa tahun terakhir, menambah cadangan hingga ribuan ton. 

Bahkan beberapa analis menyebutkan dunia sedang bersiap menuju sistem moneter baru berbasis komoditas riil.

Sementara itu, Indonesia dengan kekayaan sumber daya alamnya justru masih menyimpan sebagian besar cadangan devisa dalam bentuk dolar Amerika, mata uang yang nilainya kian bergantung pada kebijakan politik Washington. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved