KUPI BEUNGOH
Inflasi: Pencuri yang tak Pernah Ditangkap
Dengan kata lain, inflasi bukan sekadar “kenaikan harga barang”, tetapi penurunan nilai uang itu sendiri.
Dalam teori, ya. Tapi dalam praktik, tidak sesederhana itu. Ketika suku bunga dinaikkan untuk menekan inflasi, beban utang meningkat, sektor riil melambat, dan investasi melemah.
Namun ketika suku bunga diturunkan untuk menumbuhkan ekonomi, uang kembali mengalir deras ke pasar dan memicu kenaikan harga.
Paradoks inilah yang menjadikan bank sentral seperti pengendara yang menekan gas dan rem secara bersamaan.
Mereka tahu arah yang dituju, tapi jalan yang dilalui penuh jebakan.
Lebih ironis lagi, sistem keuangan modern justru mendorong inflasi sebagai hal “normal”.
Kenaikan harga 3–5 persen per tahun dianggap sehat, seolah penurunan nilai uang adalah keniscayaan yang harus diterima.
Padahal, bagi masyarakat kecil, kenaikan harga sekecil apa pun berarti pengurangan gizi di piring, pengurangan tabungan pendidikan anak, atau tertundanya biaya pengobatan.
Emas: Penjaga Nilai yang Terlupakan
Sejarah membuktikan bahwa hanya satu instrumen yang mampu mempertahankan daya beli lintas zaman: emas.
Sejak masa Rasulullah SAW, harga seekor kambing kurban adalah satu dinar (sekitar 4,25 gram emas).
Ajaibnya, hingga hari ini nilai tersebut relatif sama satu dinar emas masih bisa membeli satu kambing bahkah lebih.
Berbeda halnya dengan uang kertas. Dalam 50 tahun terakhir, nilai rupiah terhadap dolar telah tergerus ribuan kali.
Nilai uang tak lagi menjadi penyimpan kekayaan, melainkan alat transaksi yang terus kehilangan makna.
Baca juga: Harga Emas Antam Mulai Bertenaga, Berikut Rincian Harga Emas Hari ini Senin 13 Oktober 2025
Negara-negara maju kini mulai sadar. Bank sentral Tiongkok, Rusia, hingga India membeli emas dalam jumlah besar dalam beberapa tahun terakhir, menambah cadangan hingga ribuan ton.
Bahkan beberapa analis menyebutkan dunia sedang bersiap menuju sistem moneter baru berbasis komoditas riil.
Sementara itu, Indonesia dengan kekayaan sumber daya alamnya justru masih menyimpan sebagian besar cadangan devisa dalam bentuk dolar Amerika, mata uang yang nilainya kian bergantung pada kebijakan politik Washington.
| PERTI Aceh: Menjaga Sanad, Merawat Tradisi, dan Menata Arah Keberagamaan |
|
|---|
| Di Aceh, Siapa yang Melindungi Perempuan? |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian |
|
|---|
| Menghindari JKA Sebagai Sumbu Konflik: Urgensi Cooling Down bagi Elite Aceh |
|
|---|
| Dokter Internsip dalam Jerat Bullying Sistemik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/M-Nasir-cahaya-peradaban-september-2025.jpg)