Kamis, 23 April 2026

Pojok Humam Hamid

RJ Lino, Mualem, dan Amran: “What Next” untuk Sabang?

Status lex special Sabang bisa dilemahkan dengan mudah, dengan satu pernyataan, satu tafsir hukum sembarangan. 

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

“Sabang itu bukan pelabuhan kecil. 

Sabang itu “positioning error”. 

Yang salah bukan potensinya, tapi cara kita memikirkannya.

Ia menjelaskan bahwa Sabang tidak perlu bermimpi menjadi Singapura versi mini. 

Singapura berkembang bukan karena ukurannya, tetapi karena ia menjadi simpul -node- strategis dari rantai pasok global. 

Sabang pun punya potensi itu--bahkan dengan beberapa keunggulan yang Singapura tidak punya. 

Dari seluruh paparan Lino, ada satu ide yang ia sebut sebagai “hal yang paling mungkin dilakukan segera, realistis, dan punya multiplier terbesar untuk Aceh dan wilayah sekitar.” 

Yang dimaksud  Lino adalah menjadikan Sabang sebagai pusat gudang regional biji-bijian dan gula untuk Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Bukan pelabuhan peti kemas raksasa.

Bukan pusat re-ekspor barang konsumsi. 

Tetapi gudang pangan kawasan untuk gandum, kedelai, jagung, dan beras, dan gula, lima komoditas yang menggerakkan sistem pangan dua miliar manusia di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Ini adalah jumlah seperempat penduduk dunia. 

Sebelum saya sempat bertanya, Lino menjelaskan dengan kejernihan yang membuat saya tercengang.

Mayoritas stock jagung Sabang yang berasal dar AS, Brazil, Argentina, Uni Eropah, dan Ukraina nantinya bisa disalurkan ke India Selatan, Bangladesh, Sri Lanka, dan Vietnam, yang selalu rentan terhadap ketegangan geopolitik Samudra Hindia. 

Mereka membutuhkan buffer stock dekat jalur pelayaran, dan Sabang tepat berada di mulut jalur tersebut. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved