Kupi Beungoh

Ini Beda Jam Malam di Aceh dengan Lockdown di Malaysia, Pilih yang Mana?

Berdasarkan laporan warga di medsos, saat malam, banyak truk yang tertahan di jalan-jalan utama masuk Kota Banda Aceh dan daerah-daerah lainnya.

SERAMBINEWS.COM/Handover
Jafar Insya Reubee, Anggota Komunitas Melayu Acheh Malaysia (KMAM) dan Anggota Majelis Tinggi Gabungan Usahawan Acheh Malaysia (GUAM). 

Orang-orang yang sangat berkepentingan, tetap dibolehkan ke luar untuk mencari kebutuhan, tapi harus mematuhi protokoler kesehatan dan bisa menjelaskan alasan yang kuat kepada aparat gabungan yang berjaga.

Protokoler kesehatan antara lain setiap orang yang berada di luar wajib memakai masker dan sarung tangan plastik atau karet, serta menyediakan hand sanitizer bagi yang bepergian dengan mobil.

Orang-orang juga diwajibkan menjaga jarak antara satu dengan yang lainnya.

Aturan pembatasan pun sangat jelas.

Petugas dibekali dengan petunjuk teknis yang jelas, mana yang boleh dan mana yang dilarang.

Sehingga sangat kecil kemungkinan terjadi kesalahpahaman antara warga dengan aparat yang bertugas.

Misalnya, jauh-jauh hari masyarakat telah disosialisasikan tentang aturan “perintah kawalan” atau lockdown yang harus dipatuhi.

Misalnya, pasar borong dan pasar pagi boleh buka dari pukul 8 pagi sampai 4 petang.

Kemudian pasaraya, kedai runcit, dan serbaneka, boleh buka dari pukul 8 pagi sampai pukul 8 malam.

Restoran dan kedai minum atau kalau di Aceh disebut warung kopi, tetap boleh buka dari pukul 8 pagi sampai pukul 8 malam. Dengan catatan tidak menyediakan kursi dan meja.

Jadi warkop dan restoran di Malaysia tetap buka, tapi hanya untuk beli dan bawa pulang saja.

Tidak boleh ada yang duduk dan makan di sana.

Nah, menurut saya ini lah yang paling penting diterapkan di Aceh.

Karena informasi saya dapatkan, persoalan ini yang paling pelik di Aceh saat ini.

Di Aceh, semua warkop dan cafe tak boleh buka.

Hal ini membuat banyak orang kehilangan pekerjaan.

Karena para pemilik warkop memilih merumahkan para pekerjanya.

Padahal, di Malaysia, semua warkop masih tetap boleh beroperasi.

Tapi tidak boleh menyediakan meja dan kursi.

Jadi di Malaysia, bukan melarang orang beraktivitas, melainkan membatasi agar menjaga jarak atau dalam istilah keren saat ini social distancing.

Satu lagi yang menurut saya juga patut dicontoh, yaitu pengangkutan komersil atau mobil barang, truk, trailer dan segala macam, beroperasi dari pukul 7 malam hingga 7 pagi. 

Ini sungguh berbeda dengan di Aceh.

Aturan jam malam di Aceh malah membuat armada pengangkut kebutuhan warga tak berani jalan pada malam hari.

Beberapa truk-truk memilih bermalam di jalanan, sehingga membuat biaya perjalanannya meningkat.

Ujung-ujungnya, harga barang kebutuhan pokok di Aceh akan naik.

Akan lebih fatal, jika armada pengangkutan ini tidak mau lagi mengangkut barang ke Aceh, karena alasan jam malam ini.

Satu hal lainnya, penerapan jam malam tanpa pandang bulu dan alasan ini, membuat jalan di Aceh penuh sesak pada siang.

Truk, mobil pribadi, dan lainnya, semua beraktivitas pada siang.

Seorang teman yang bermukim di kawasan Lambaro mengatakan kepada saya via pesan WhatsApp, pada pagi hari, pasar Lambaro penuh sesak dengan orang yang berbelanja.

Ada juga yang nongkrong di warung kopi. Sementara banyak warkop juga tutup total.

Karena tak ada aturan jelas seperti di Malaysia, “warkop boleh buka, tapi tak boleh sediakan kursi”

Menurut saya, penumpukan orang di jalan dan pasar ini terjadi, selain karena semalaman tak boleh ke luar, juga karena tidak jelasnya aturan dan instruksi “mana yang boleh, mana yang tidak boleh.”

Jadi, kesannya di Aceh saat ini hanya ada pembatasan pada malam hari, yaitu jam malam yang menimbulkan kesan menakutkan.

Sementara siang hari, sangat sedikit pembatasan, karena bandara terbuka dan jalanan tak ada razia.

Hanya warkop dan rumah makan saja yang dibatasi, bahkan banyak yang ditutup sama sekali.

Maka tidak aneh jika kemudian muncul banyak tanggapan dan rasa heran dari warga.

Mereka mempertanyakan apakah corona itu hanya berkeliaran pada malam hari?

Kenapa pula gampong-gampong dijaga oleh anak-anak muda yang berkumpul tanpa jarak antara satu dengan lainnya?

Siapa yang bisa jamin anak-anak muda yang berjaga malam di pintu gerbang gampong ini tidak mempan serangan virus corona?

Di Malaysia, perkampungan penduduk tetap terbuka seperti biasa.

Tidak ada portal yang menghalangi jalan.

VIDEO - Polisi Malaysia Razia Warga yang Kedapatan Keluar Rumah dalam Masa Lockdown

Kisah Warga Aceh di Malaysia di Tengah Lockdown, Dari Kesulitan Makan Hingga Bagi-bagi Bantuan

Tapi orang-orang sudah patuh, siang malam, selama masa kawalan orang-orang yang tak berkepentingan jangan berkeliaran.

Aturan “duduk dekat rumah” benar-benar ditegakkan dengan jelas, tepat, dan akurat.

Bagi yang punya kepentingan tetap bisa melalui roadblock (razia/sweeping) aparat gabungan, tanpa harus merasa ketakutan.

Yang tak bisa tunjuk bukti kuat sebagai alasan lewat, maka petunjuknya adalah your turn alias pusing atau putar balik. 

Lihat video yang merekam kegiatan blockroad yang dipublish di akun Youtube The Star.

Karena kata orang kesehatan, salah satu penyebab virus corona adalah imunitas tubuh.

Dan orang yang stres atau ketakutan dengan keadaan akan membuat imun tubuh menurun. Saat itulah corona menyerang.

So... Aceh mau seperti Malaysia yang lemah lembut dan terukur dalam menegakkan aturan, atau mencontoh India yang kita lihat di medsos dan berita sangat memilukan.

Ada yang bilang, memang perlu tindakan keras dan tegas untuk menertibkan orang Aceh.

Saya tanya balik, memangnya tidak ada orang Aceh atau orang India di Malaysia?

Tapi kok Malaysia bisa menertibkan orang Aceh dan orang India? Kenapa kita tidak? Wallahuaklam bissawab.

*) PENULIS, Anggota Komunitas Melayu Aceh Malaysia.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved