Kupi Beungoh
Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XI) - Teater Perang Ukraina, Islam vs Islam
Divisi ketiga adalah divisi Crimea, yang merupakan muslim dari wilayah Crimea yang telah direbut oleh Rusia pada tahun 20 14.
Mufti Besar Islam Ukraina, Said Ismagilov misalnya, telah menampilkan foto terbarunya yang menunjukan pergantian baju resmi mufti hariannya, dengan baju angkatan bersenjata Ukraina.
Ismagilov menyebut kebrutalan Rusia di Suriah memberikan justifikasi baginya sesuai perintah Alquran untuk mengenyahkan Putin dan pasukannya.
Senada dengan Said Ismagilov, Mufti Islam Tatar Crimea, Ayder Rustemov yang wilayahnya kini telah berhasil diduduki dan dikuasai oleh pasukan Rusia juga telah menyerukan kepada tentara Rusia muslim untuk tidak menyerang negerinya, Ukraina.
Hal yang sangat berbeda keluar dari beberapa mufti negara bagian Rusia yang lain seperti dari Tatarstan, Bashkortostan, dan juga mufti Moskow, yang sepenuhnya mendukung langkah Vladimir Putin.
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (X) - Islam, Ukraina, dan Cerita Abbas dari Ramallah
Baca juga: Ucapkan Takbir saat akan Bantu Pasukan Rusia, Pasukan Chechnya Malah Disebut Keluar dari Agama Islam
Baca juga: Kilas Balik Sejarah Kedekatan Kedekatan Rusia dan Republik Chechnya, Dulu Pernah Bermusuhan
Alat Pertikaian Barat dan Timur
Kemana semua itu akan berakhir?
Dalam sejarahnya, ummat Islam selalu berada dalam sebuah kompleksitas yang cukup pedas.
Sejarah ummat Islam abad ke 20, terutama setelah runtuhnya kerajaan Ottoman Turki, adalah sejarah tentang menjadi alat dari kekuatan dunia yang bertikai, terutama pertikaian antara Barat dan Timur, dahulunya, dan kini antara AS dan Rusia.
Berbagai teater perang dan kekerasan global abad ke 20, dan kini awal abad 21, jelas tampak dengan mata telanjang betapa perang antara kedua kekuatan itu adalah perebutan kepentingan dan kelanjutan hegemoni yang tak pernah henti.
Pilihannya tidak banyak, hanya dua Islam yang terjepit atau Islam yang menjadi alat.
Ketika perang terjadi umat Islam yang berperang, baik dengan non-Islam, maupun sesama Islam, membawa nama Allah SWT dan Alquran.
Seringkali ketika perang selesai mereka ditinggalkan, dimarjinalkan, dan bahkan tak jarang dijadikan musuhnya, dan tak jarang musuh masyarakat global sekaligus.
Banyak pelajaran yang tak cukup kertas untuk dituliskan, dan umat Islam tak pernah jera dengan pengalaman itu.
Mungkinkah ulama dari Indonesia, bahkan dari Aceh mampu memberi justifikasi fikih tentang adagium musuh dari musuh saya adalah kawan saya, ataupun musuh dari kawan saya adalah musuh saya, walaupun pihak yang saya pilih adalah nonmuslim, sementara lawannya adalah muslim?
Kini teater perang, darah, dan kekerasan negara adi kuasa dan itu sedang dipertunjukkan di Ukraina, dan tragisnya, ada darah ummat Islam di sana.(BERSAMBUNG)
*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-ahmad-humam-hamid-4.jpg)