Opini
Menyikapi Awal Ramadhan
SETIAP menjelang puasa Ramadhan, umat Islam khususnya di Indonesia dihadapkan dengan satu agenda wajib, yaitu penetapan awal Ramadhan
(2) Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah;
(3) Dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam dan Instansi terkait;
(4) Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang mathla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI.
Fatwa MUI yang ditandatangani oleh KH.Ma’ruf Amin ini dalam konsideransnya menekankan bahwa fatwa ini dibentuk guna menciptakan persatuan umat dan menghindari dari citra dan dampak negatif dari syiar dan dakwah Islam andaikata hasil penetapannya muncul beragam.
Dalam penetapan fatwa ini MUI berlandaskan pada beberapa pijakan, di antaranya firman Allah SWT:” Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan ulil-amri (pemerintah) di antara kamu.(QS.
an-Nisa’: 59); hadis Nabi Muhammad SAW yakni “Wajib bagi kalian untuk taat (kepada pemimpin), meskipun yang memimpin kalian itu seorang hamba sahaya Habsyi”.(H.R.Bukhari) serta kaidah fiqh: “Keputusan pemerintah itu mengikat (wajib dipatuhi) dan menghilangkan perbedaan pendapat”.
Berdasarkan beberapa dalil di atas, patuh kepada pemimpin merupakan suatu kewajiban yang patut dilakukan oleh umat Islam.
Termasuk patuh terhadap penetapan puasa Ramadhan yang ditetapkan oleh pemerintah.
Patuh dan taat disini tentunya berlaku sepanjang anjuran pemerintah tidak bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.
Di dalam hadis lain Nabi Muhammad SAW bersabda: “Dengar dan taatlah (kepada penguasa).
Karena yang jadi tanggungan kalian adalah yang wajib bagi kalian, dan yang jadi tanggungan mereka ada yang wajib bagi mereka” (HR.Muslim).
Oleh karena itu, mengikuti pemerintah dalam penetapan puasa Ramadhan merupakan sebuah keniscayaan sebagai wujud muslim yang taat, cinta persatuan serta menolak perpecahan.
Semoga puasa Ramadhan yang kita lalui ini benar-benar menjadi titik balik bagi kita untuk menjadi orang yang lebih baik.
Semoga!
Baca juga: Abu Muda: Sikapi Kemungkinan Perbedaan Awal Ramadhan dengan Saling Menghargai
Baca juga: Potensi Awal Ramadhan 2022 pada 3 April, Kemenag: Hilal Tak Terlihat di 101 Titik Pemantauan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TGK-KAMARUZZAMAN-SHI-MAg-Pegawai-Kemenag-Aceh-Barat.jpg)