Kupi Beungoh
Rocky Gerung vs Moeldoko: Tentang “Tak Berhati” - Bagian I
Moeldoko yang bertugas sebagai Kepala Sekretariat Presiden justeru menggunakana istilah “tak berhati” kepada Rocky.
Itu semua nyaris tak terjadi, dan bahkan jikapun terjadi seperti yang dilakukan oleh PKS atau Partai Demokrat, kadang dianggap sebagai guyon yang tak bermakna.
Persepsi publik dengan berbagai cara, telah mampu dinarasikan oleh mereka yang berkuasa untuk melihat berbagai pandangan kritis terhdap kebijakan pemerintah sebagai bagian dari parodi bodoh murahan.
Tak mau ketinggalan kereta, publik yang semula melihat Prabowo Subianto dan gerbongnya sebagai antitesis Jokowi yang kalah pada Pemilu 2018, justeru menjadi bagian dari rezim yang berkuasa.
Alih-alih menjadipenyeimbang dalam degup langkah perjalanan bangsa, berbagai justifikasi dicari untuk menjadi bagian dari penumpang kereta rezim yang akan berakhir pada 2024.
Ruang demokrasi nasional nyaris tenggelam, karena memang hampir tak ada tawaran “narasi alternatif” tentang dimana, bagaimana, dan kemana bangsa akan bergerak.
Baca juga: Rocky Gerung Tak Gentar Dipolisikan: Saya akan Terus jadi Pengkritik Siapa pun Presidennya
Jikapun ada satu dua media, atau beberapa tokoh yang meleset dari “narasi tunggal” yang sedang diperagakan, arus yang melawan itu sama sekali tak sanggup menandingi arus besar yang dilepas oleh pusat kekuasaan.
Tak yakin dengan berbagai upaya propaganda kesempurnaan narasi tunggal, ada supplemen penguat yang dilancarkan melalui operasi “pasukan cyber.”
Intinya, berbagai kebijakan kekuasaan tidak hanya dihidangkan kepada publik sebagai obat mujarab, akan tetapi pelakunya utamanya juga dipotret sebagai sosok “messiah”.
Hanya dan hanya orang seorang itulah yang akan menjadi juru selamat bangsa di tengah ketidakpastian global, dan keniscayaan perang dingin babak kedua, kali ini antara AS vs Cina.
Banyak pihak merasa lega, ketika Jokowi merespons enteng terhadap kata dan kalimat Rocky.
Paling kurang, kekuatiran tentang arah demokrasi yang di permukaan kelihatannya sedang menuju jurang, sepertinya terbantahkan dengan tiga kata kalimat pendek “itu hal kecil”.
Jokowi mungkin juga ingat, bahwa pendahulunya SBY pernah ditabalkan namanya pada seekor kerbau hidup yang di hela di depan istana.
Karenanya ia tak peduli, walaupun tak berapa lama kemudian, para punggawa istana mempunyai sikap yang bedanya persis seperti siang dan malam.
Baca juga: Rocky Gerung Minta Maaf Bikin Gaduh: Bahasa Saya Tajam, tapi Tak Diarahkan ke Pribadi Jokowi
Adalah Moeldoko, yang kemudian diperkuat oleh Ali Muchtar Ngabalin yang menanggapi dan mengecam keras pernyataan Rocky Gerung.
Moeldoko yang bertugas sebagai Kepala Sekretariat Presiden justeru menggunakana istilah “tak berhati” kepada Rocky.
Kemudahan Tanpa Tantangan, Jalan Sunyi Menuju Kemunduran Bangsa |
![]() |
---|
Memaknai Kurikulum Cinta dalam Proses Pembelajaran di MTs Harapan Bangsa Aceh Barat |
![]() |
---|
Haul Ke-1 Tu Sop Jeunieb - Warisan Keberanian, Keterbukaan, dan Cinta tak Henti pada Aceh |
![]() |
---|
Bank Syariah Lebih Mahal: Salah Akad atau Salah Praktik? |
![]() |
---|
Ketika Guru Besar Kedokteran Bersatu untuk Indonesia Sehat |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.