Kupi Beungoh
Rocky Gerung vs Moeldoko: Tentang “Tak Berhati” - Bagian I
Moeldoko yang bertugas sebagai Kepala Sekretariat Presiden justeru menggunakana istilah “tak berhati” kepada Rocky.
Ibaratnya Rocky diposisikan sebagai makhluk “kurang ajar” yang menggunakan kata-kata tak pantas yang ditujukan untuk menghina presiden.
Ketika Moeldoko menggunakan frasa tak berhati, seolah dirinya adalah makhluk paripurna, berakhlak mulia, yang menjaga kata dan perbuatannya dengan kaedah moral dan budi pekerti yang mulia.
Ia lupa, jika memang benar Rocky “tak berhati” dengaan menggunakan kata dan kalimat, Moeldoko sendiri justeru melakukan perbuatan yang sangat “tak berhati”, yang sampai hari ini masih terus ditekuninya.
Ia melakukan kegiatan “tak berhati” itu bahkan dengan embel-embel pejabat negara.
Apa perbuatan “tak berhati” yang nyata dan diketahui oleh publik secara luas yang dilakukan oleh Moeldoko?
Perbuatan itu adalah, ia dengan vulgar menjadikan dirinya sebagai “begal politik”.
Ia ingin merampok Partai Demokrat dengan membuat kudeta melalui Kongres Luar Biasa di Deli Serdang pada 2021.
Kudeta itu tak diakui pemerintah,lewat pernyataan Menkumham, Yasonna H. Laoly.
Aksi begal itu terus berlanjut.
Ada bukti serius “begalnya” Moeldoko dengan serial kegiatan lanjutan- dua gugatan ke PTUN, kasasi Mahkamah Agung.
Semua upaya itu gagal.
Namun, perangai “begal” Moeldoko tak berhenti.
Ia bekerja dan berharap, dan beberapa waktu yang lalu ia mengajukan empat novum baru ke Mahkamah Agung untuk mengabulkan upaya peninjauan kembali yang diajukannya.
Untung saja upaya itu kandas, Mahkamah Agung menolak mosi yang diajukan Moeldoko itu.
Begalnya Moeldoko sebenarnya tidak hanya diwujudkan dengan serial upaya serius dengan berbagai cara untuk mengambil alih Partai Demokrat.
Ia lupa terhadap orang yang paling berjasa yang membuatnya besar, presiden SBY yang mendapuknya menjadi Panglima TNI.
Dan SBY adalah, pendiri, dan pemilik Parti Demokrat, yang kebetulan saat ini anaknya menjabat sebagai ketua umum Partai Demokrat yang dipilih secara sah.
Moeldoko lupa SBY bisa saja mengangkat siapapun yang dia kehendaki untuk menjadi Panglima TNI pada masa itu, paling kurang selain Moeldoko, ada dua kepala staf angkatan lainnya.
Namun ia memilih Moeldoko.
Kini, orang yang dibesarkan SBY menjadi “begal” yang ingin merampok dan mengobok-ngobok partai yang didirikannya, “berhatikah Moeldoko?”
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
Kemudahan Tanpa Tantangan, Jalan Sunyi Menuju Kemunduran Bangsa |
![]() |
---|
Memaknai Kurikulum Cinta dalam Proses Pembelajaran di MTs Harapan Bangsa Aceh Barat |
![]() |
---|
Haul Ke-1 Tu Sop Jeunieb - Warisan Keberanian, Keterbukaan, dan Cinta tak Henti pada Aceh |
![]() |
---|
Bank Syariah Lebih Mahal: Salah Akad atau Salah Praktik? |
![]() |
---|
Ketika Guru Besar Kedokteran Bersatu untuk Indonesia Sehat |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.