Kajian Kitab Kuning

Hukum Nazar 'Turun Mandi Anak' dengan Mengeluarkannya Lewat Jendela Rumah

Nazar “jika anak sehat ketika 'turun mandi anak', anak tersebut keluar rumah lewat tulak angen (ventilasi udara) rumah”, hukum nazarnya tidak sah.

Editor: Agus Ramadhan
Tangkap Layar Youtube SERAMBINEWS
Dewan Pembina DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Tgk Alizar Usman MHum. 

 

2. Nazar tabarrur sebagaimana dikemukakan pengarang Tuhfah al-Muhtaj adalah:

)وَنَذْرُ تَبَرُّرٍ) سُمِّيَ بِهِ؛ لِأَنَّهُ لِطَلَبِ الْبِرِّ أَوْ التَّقَرُّبِ إلَى اللَّهِ تَعَالَى (بِأَنْ يَلْتَزِمَ قُرْبَةً) أَوْ صِفَتَهَا الْمَطْلُوبَةَ فِيهَا كَمَا يَأْتِي آخِرَ الْبَابِ (إنْ حَدَثَتْ نِعْمَةٌ) تَقْتَضِي سُجُودَ الشُّكْرِ كَمَا يُرْشِدُ إلَيْهِ تَعْبِيرُهُمْ بِالْحُدُوثِ (أَوْ ذَهَبَتْ نِقْمَةٌ) تَقْتَضِي ذَلِكَ أَيْضًا،

Nazar tabarrur  adalah mewajibkan menyanggupi melakukan suatu qurbah atau sifat qurbah yang ada tuntutan sebagaimana nantinya di akhir bab, jika datang suatu nikmat yang mengakibatkan disyariatkan sujud syukur sebagaimana ‘ibarat para ulama dengan perkataan “al-huduts” ataupun hilang suatu yang dibenci yang juga mengakibatkan sujud syukur.

(Lihat: Hasyiah Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj: X/69-71)

Nazar tabarrur ini terbagi kepada dua macam, yakni nazar munajjaz, yaitu nazar yang sifatnya mutlaq dilakukan tanpa mengaitkannya dengan keberhasilan melakukan sesuatu dan nazar mu’allaq, yaitu nazar yang mengaitkannya dengan keberhasilan melakukan sesuatu.

Nazar munajjaz wajib dipenuhi seketika itu juga begitu lafazh nazar diucapkan. Adapun nazdar mu’allaq wajib dipenuhi nazarnya apabila keadaan yang dikaidkan dalam nazarnya itu menjadi kenyataan.

Nabi SAW bersabda:

مَن نَذَرَ أنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ، ومَن نَذَرَ أنْ يَعْصِيَهُ فلا يَعْصِهِ.

Siapa yang bernazar ketaatan kepada Allah, hendaknya dia melakukan ketaatannya. Dan siapa yang bernazar melakukan kemaksiatan, maka jangan melakukan kemaksiatannya (H.R. Bukhari)

Nazar dengan suatu yang mubah

Para ulama menyatakan bahwa jika seseorang bernazar dengan perbuatan yang mubah seperti “Jika aku lulus UN, maka aku akan makan lontong,” maka hukum nazarnya tidak sah dan tidak memiliki akibat apa-apa.

Hal tersebut berdasarkan hadis riwayat Abu Daud:

لَا نَذْرَ إلَّا فِيمَا اُبْتُغِيَ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ تَعَالَى

Tidak ada nazar kecuali untuk hal-hal yang bertujuan mencari keredhaan Allah SWT. (H.R. Abu Daud)

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved