Jumat, 24 April 2026

Opini

Teknologi Penangkap Karbon: Solusi Semu Krisis Iklim

Pertanyaannya adalah apakah benar penggunaan teknologi CCS sebagai solusi yang tepat untuk atasi perubahan iklim? Pertanyaan ini perlu dijawab menging

Editor: mufti
IST
Iswadi, Pemerhati lingkungan, dan alumnus Hukum dan Kebijakan Lingkungan University of New South Wales, Australia 

Data Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menunjukkan sekitar 80 hingga 90 persen emisi karbon yang ditangkap digunakan untuk meningkatkan produksi minyak bumi yang membuat perusahaan tambang minyak dapat meningkatkan produksi mereka. Hal tersebut justru dapat memperparah krisis iklim.

Dalam implementasinya, teknologi CCS juga masih belum mampu menunjukkan performa secara maksimal. IEEFA melakukan riset terhadap 13 proyek CCS terkemuka yang memiliki kapasitas setara dengan 55 persen total proyek CCS yang sedang beroperasi secara global saat ini. IEEFA menyimpulkan bahwa mayoritas industri CCS tersebut mengalami kegagalan, baik dalam pencapaian, maupun teknis pengoperasiannya.

Stuart Haszeldine seorang profesor di bidang CCS dari The University of Edinburgh mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi CCS seperti memberikan rokok kepada seseorang yang sedang berusaha berhenti merokok. Klaim Haszeldine sangat beralasan. Teknologi CCS adalah “angin segar” bagi pemanfaatan bahan bakar fosil. Kehadiran teknologi penangkap karbon itu akan memperpanjang ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil yang dapat menghambat upaya transisi ke energi ramah lingkungan.

Kita tengah terjebak dengan premis nama  CCS yang terkesan akan membawa manfaat besar dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Sehingga, hal tersebut membuat kita semakin terjebak dalam optimisme bias yang dapat menambah sikap abai kita terhadap kebijakan pengentasan krisis iklim lainnya.

Berharap pada teknologi CCS untuk mengurangi emisi karbon yang lepas ke atmosfer bukan pilihan yang tepat. Kebijakan  pemanfaatan CCS adalah kebijakan parsial yang memberikan manfaat sangat kecil, tetapi  mudarat yang sangat besar bagi krisis iklim.

Sejauh ini, hutan masih dipandang sebagai penyerap karbon terbaik dan paling efektif dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Oleh karena itu, pemerintah Aceh seyogianya harus fokus pada penguatan kebijakan pengawasan hutan Aceh yang semakin hari terus mengalami penyusutan.

Lain daripada itu, juga perlu merampungkan qanun tentang Pengelolaan Karbon Aceh, yang saat ini sudah memasuki masa pembahasan awal di legislatif. Jika tidak, solusi perubahan iklim hanya retorika semu, jika terlalu berlebihan untuk dikatakan halu.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved