Kupi Beungoh

Jalan Terjal Gubernur Aceh 2024-2029: Aceh-Jakarta, Muzakir, Van Heutz, Pusat Kekuasaan - Bagian XVI

Terakhir sebelum menjadi gubernur Aceh, Muzakir menjabat selaku direktur perusahaan daerah PT. Panca Usaha.

Editor: Firdha Ustin
YouTube Serambinews
Sosiolog dan Guru Besar USK, Prof Ahmad Humam Hamid. 

Setelah kurang dari 10 menit pembicaraan mereka berdua, Muzakir mulai mencari titik masuk. Ketika pak Harto sangat senang diskusi mengenai capaian program intensifikasi padi.

Muzakir menceritakan tentang betapa keberhasilan Dinas Pertanian Aceh yang dipimpin oleh Hasbi Hamid BSA, luluşan college pertanian Universitas Los Banos, Filipina. Ketika tampak pak Harto sumringah, dia tak menghilangkan kesempatan itu.

Muzakir menceritakan kepada pak Harto tentang betapa Pemda Aceh sangat koperatif membantu Mobil Oil, termasuk langkah-langkah persiapan untuk pembangunan Kilang LNG di kawasan Balng Lancang. Tak berapa lama kemudian pak Harto mulai bicara tentang betapa pentingnya Arun untuk pundi- pundi pemasukan negara yang akan digunakan untuk pembangunan.

Muzakkir dengan sangat hati-hati mulai menyampaikan ke pak Harto tentang berita yang berkembang bahwa Kilang pengolahan LNG Arun yang sedang dalam tahap persiapan akan di pindahkan ke Pangkalan Berandan. Pak Harto menjawab dengan nada suara bahwa hal itu sedang didiskusikan antara Mobil Oil, Menteri Pertambangan, Pertamina, dan Jilco Jepang.

Pak Harto berbicara sangat serius tentang dua aspek. Pertama, tentang kepetingan nasional dalam hal penerimaan negara dari gas alam, dan logika perusahaan yang tak mau mengambil resiko dalam pengelolaan pekerjan di lapangan.

Apalagi Arun dan Kilang itu sendiri bernilai miliaran dan tentu saja seringkali logika investasi tidak selalu sangat setangkup dengan logika sosial politik. Intinya, seolah pak Harto sedang mempersiapkan mental Muzakir untuk siap menerima kenyataan Kilang Gas Arun di Blang Lancang akan dipindahkan ke Pangkalan Berandan.

Kini Muzakir memasuki tahap kritis nasib Aceh tentang lokasi Kilang LNG Blang Lancang atau Pangkalan Berandan. “Bapak Presiden” ucap Muzakir.

“Kalau seandainya bapak berkenan dań mengizinkan, sebelum keputusan akhir tentang lokasi Kilang LNG itu dibuat , saya mau bertemu dengan pimpinan Mobil Oil di Amerika Serikat”, Muzakir menukas.

Pak Harto melihat Muzakir, kemudian menunduk singkat. Lalu, ia berkata, “ boleh” silakan pergi, bicarakan baik-baik. Apapun hasilnya beritahu saya. Muzakir, sebentar menunduk, kemudian melihat ke pak Harto dengan mata syukur dan terimakasih. Ia pamit kepada Pak Harto, meninggalkan cendana dengan perasaan haru biru, senang, namun masih cukup banyak tantangan (Bersambung)

Penulis: Sosiolog dan Guru Besar USK

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved