Citizen Reporter

Wakaf Baitul Asyi, Spirit bagi Masyarakat Aceh

Kenapa kita mulai dengan wakaf? Karena sudah terbukti nenek moyang kita sudah berhasil dengan program wakafnya sehingga kita bisa menikmatinya hari in

|
Editor: mufti
zoom-inlihat foto Wakaf Baitul Asyi, Spirit bagi Masyarakat Aceh
FOR SERAMBINEWS.COM
DAMANHUR, Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Malikussaleh Aceh Utara dan Petugas Haji Daerah Aceh, melaporkan dari Makkah Al-Mukarramah, Saudi Arabia

DAMANHUR, Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Malikussaleh Aceh Utara dan Petugas Haji Daerah Aceh, melaporkan dari Makkah Al-Mukarramah, Saudi Arabia

PEMBAGIAN hasil wakaf produktif dari Baitul Asyi terus berlanjut. Tahun ini memasuki tahun ke-18 sejak 2006. Saat pembagian Wakaf Baitul Asyi untuk kloter BTJ 07 yang berlangsung di Hotel Jauharat Al-Mahabbah Misfalah, Ketua Kolter BTJ 07, Dr Abd Syukur MAg memberikan penjelasan bahwa tradisi wakaf merupakan tabiat orang tua kita dulu pada saat mereka berhaji. "Semoga tradisi tersebut masih terus menjadi warisan budaya masyarakat Aceh," ujarnya.

Sedangkan dari pihak Baitul Asyi yang berhadir pada hari itu adalah Syeikh Dr Abdullatif al-Baltu. Adapun Dr Abdurrahman Abdullah al-Asyi, keturunan Aceh, brhalangan hadir karena regulasi masuk ke Makkah sangat ketat menjelang pelaksanaan ibadah haji.

Turut hadir Bendahara Baitul Asyi, Muhammad Said, sebagai akuntan yang berasal dari Mesir.
Pada kesempatan itu, Syeikh Baltu--sapaan akrab nazir wakaf Baitul Asyi--menyampaikan beberapa perkara penting mengenai wakaf Baitul Asyi. Di antaranya, pertama dana kompensasi wakaf Baitul Asyi diberikan kepada orang Aceh yang melaksanakan ibadah haji.

Kedua, diperuntukkan bagi orang Aceh yang tinggal muqimin di Makkah.

Jika kedua asnaf tersebut tidak ada maka akan diserahkan manfaat dana Baitul Asyi untuk kemaslahatan Masjidil Haram. Begitulah ikrar wakaf yang dicantumkan oleh Habib Bugak Asyi. Dan itu tercatat secara resmi di Mahkamah Syariah Makkah. Habib Bugak mempunyai visi yang futuristik dan sangat cemerlang dalam menyusun ikrar wakaf sehingga kemaslatahan wakaf Baitul Asyi dapat terus berkelanjutan.

Selain itu, saya mendengar langsung kisah Baitul Asyi dari alllahuyarham Abu Haji Ismail Ibrahim, Pimpinan Dayah Bustanul Ulum Langsa, babwa setiap jemaah haji asal Aceh mempunyai spirit untuk berwakaf di Tanah Suci. Emas dan harta benda yang mereka bawa dari tanah air diwakafkan kepada salah seorang ulama yang amanah, yaitu Habib Bugak Asyi. Habib Bugak Asyi berhasil mengelola amanah tersebut sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat Aceh hingga hari kiamat.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat (Isra) Sekretariat Daerah Aceh, Dr Yusrizal MSi mewakili Pj Gubernur Aceh, Bapak Bustami Hamzah MSi, menyampaikan, “Pemerintah Aceh akan terus memberikan pelayanan kepada jemaah haji dari Aceh dengan mengirim petugas haji daerah (PHD). Untuk tahun ini Pemerintah Aceh mengikutsertakan 36 orang PHD dengan komposisi pelayan umum, dokter, dan pembimbing ibadah."

Kepala Biro Isra juga mengingatkan kepada seluruh PHD agar selalu menggunakan identitas, baju seragam, karena jemaah haji sangat memerlukan pendampingan dari petugas. Petugas tidak sangat dianjurkan untuk melakukan ibadah secara individual karena moto petugas adalah pekerjaanku adalah ibadahku.

Untuk tahun ini, jumlah dana yang disalurkan sebesar RS 7.275.000 atau setara dengan Rp31 miliar. Selain itu, Baitul Asyi memiliki dua building (imarah) yang ditempati oleh 25 orang Aceh yang tinggal di Makkah. Syeikh Baltu memohon doa agar dapat terus menjalankan amanah ini sekaligus untuk pengembangan dana Baitul Asyi untuk masa depan yang lebih baik. Setiap jamaah Aceh mendapatkan wakaf uang tunai sebesar SR 1.500 atau setara dengan 6 juta rupiah.
Kalau kita kalkulasikan jumlah dana yang diterima oleh jemaah haji Aceh bisa mencapai 10 juta rupiah. Namun, yang menjadi pertanyaan masih adakah spirit donasi bagi jemaah sekarang sebagaimana yang dimiliki oleh indatu (nenek moyang) mereka?

Atau semuanya berubah menjadi rantang dan ceret kuning atau ambal yang akan memenuhi koper jamaah? Sudah sepatutnya masyarakat Aceh memikirkan proyek wakaf yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik yang berhaji maupun di Tanah Air.

Saya punya sebuah gagasan, jika Aceh mempunyai peternakan domba, domba tersebut dapat diekspor ke Arab Saudi. Tidak usah muluk-muluk dalam satu tahun kita mengekspor 15.000 ekor domba dengan asumsi jumlah jemaah haji 4.620 orang ditambah 96 petugas kloter dikalikan tiga ekor domba. Karena setiap jamaah haji Aceh atau Indonesia umumnya melaksanakan haji tamattuk. Dengan konsekuensi membayar denda (dam) berupa domba. Selain itu, jamaah dapat melaksanakan kurban di tanah suci dengan raihan pahala 100.000 kali lipat, sedangkan manfaatnya disalurkan ke Tanah Air.

Untuk peruntukan daging kurban dikirim kembali ke Aceh dalam bentuk kalengan sehingga dapat bermanfaat bagi fakir miskin. Selain itu, program ini akan memperbesar lapangan kerja bagi masyarakat Aceh, di antaranya tukang potong syar’i, pekerja pabrik pengalengan, bahkan terbuka peluang untuk juru masak yang meracik daging kurban siap saji yang dapat dipasarkan kepada jemaah haji dengan hasil penjualannya akan menjadi aset wakaf baru bagi masyarakat Aceh.

Untuk pembiayaan, Aceh mempunyai dana yang melimpah, mulai dana Baitul Mal yang menganggur karena regulasi yang tidak mendukung, seharusnya  ini menjadi catatan bagi angota dewan terpilih untuk mengembangkan ekosistem ekonomi Islam di Aceh.

Selain itu, pihak perbankan juga perlu mengambil peran, jangan cuma bisa menyalurkan kredit untuk PNS atau judul pembiayaan UMKM, tapi yang menerima dananya justru pemilik toko kelontong, bukan pelaku UMKM yang perlu dipasarkan produknya baik skala nasional maupun internasional.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved