Kupi Beungoh
Dilema Berburu SK di Pilkada
Seorang politisi sejati tentu tidak akan berhenti dan akan mencari alternatif perahu politik lain.
Oleh: Fajran Zain*)
Hari-hari menuju tahapan pendaftaran Calon Kepala Daerah ke Komisi Independen Pemilihan (KIP), pada 27-29 Agustus 2024, menjadi detik-detik yang penuh misteri.
Ruang publik seperti warung-warung kopi dipenuhi oleh diskusi tentang siapa saja bakal calon yang akan bertarung hingga partai apa yang mengusung.
Diskusi ala warkop di Aceh ini, lengkap dengan tentang kekuatan para pendukung di belakang pasangan calon, hingga analisis peta menang dan peta kalahnya.
Tradisi diskusi di warung kopi ini menjadi penanda bahwa tingkat literasi politik di Aceh cukup tinggi.
Sisi kandidat juga menarik untuk dicermati.
Mereka tentunya berada dalam kondisi lelah dan was-was.
Proses lobi yang sudah dibangun dalam setahun terakhir, dan lebih diintensifkan dalam dua bulan terakhir, apakah akan bermuara pada penerbitan Surat Penominasian?
Atau hanya akan bermuara pada rekaman kisah-kisah PHP yang lain?
Sudah tentu meniti jalan menuju puncak bukanlah upaya yang mudah.
Setidaknya setiap kandidat harus siap menghadapi enam jenis konsekuensi yaitu resiko biaya (financial risk), resiko waktu (time risk), resiko tenaga (energy risk), resiko penampilan (performance risk), resiko sosial (social risk) dan yang lebih krusial adalah resiko psikologis (psychological risk).
Kita sadar secara biaya bahwa seorang kandidat harus mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk membangun branding ketokohannya yang melibatkan aspek survei, kegiatan-kegiatan sosial pencitraan, mobilisasi dukungan, penggalangan massa, penggunaan media publikasi outdoor, biaya transportasi di daerah basis, biaya entertainment pengurus partai politik.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah mahar politik baik yang resmi ataupun yang dibungkus dengan biaya survei, atau biaya kampanye atau biaya registrasi lainnya.
Makin menuju hari penentuan, makin tinggi pula tingkat pengeluaran kandidat.
Mereka harus merapat ke pusat pengambilan keputusan baik di tingkat pengurus wilayah ataupun pengurus pusat untuk melakukan persuasi jarak dekat.
| Dacumesta: Warisan Empat Gampong di Reubee Pidie, Ini Harapan Generasi Muda |
|
|---|
| Peta Jalan Baru Karier Guru Indonesia |
|
|---|
| Antara Kebijakan dan Kriminalisasi: Membaca Kasus Gus Yaqut dengan Jernih |
|
|---|
| Dari Thaif ke Aceh: Makna Isra Mikraj di Tengah Bencana |
|
|---|
| Jaga Marwah USK: Biarkan Kompetisi Rektor Bergulir dengan Tenang dan Beradab |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Fajran-Zain-Direktur-Kajian-Elektoral.jpg)