Kupi Beungoh
Dilema Berburu SK di Pilkada
Seorang politisi sejati tentu tidak akan berhenti dan akan mencari alternatif perahu politik lain.
Rencana besar, namun dari awal sudah bisa dipastikan tak akan terpenuhi.
Maka lambat laun siapapun akan menarik diri, melepaskan semua impian yang semula sangat diharapkannya.
Pilihan mundur adalah lebih baik bagi menstabilkan disonansi kognisi.
Sikap mundur mencitrakan bahwa seseorang tetap memiliki kontrol atas plihannya, dan ini jauh lebih bernilai daripada melanjutkan kontestasi dalam ketidakpastian.
Kalkulasi antara nilai dan peluang juga jelas di sini.
Harapan juga bisa berwajahkan frustasi.
Wajah ini hadir dalam kegagalan mencapai tujuan yang nilainya besar, sementara potensi untuk mencapainya juga besar.
Wajah frustasi hadir bila kegagalan itu dibumbui oleh persepsi kesengajaan; produk akal-akalan dari pihak tertentu.
Hadir di dalam benak mereka usaha menggagalkan yang dilakukan secara terencana oleh otoritas partai.
Muaranya adalah sikap agresivitas terbuka, demo bahkan perusakan fasilitas, atau yang paling ringan adalah sikap boikot.
Itulah sulitnya berharap.
Berharap tak sesederhana kontrol atas perilaku diri sendiri tetapi juga butuh pada terbangunnya kesamaan persepsi dengan pihak lain.
Kita boleh berencana, menginvestasikan fikiran dan strategi, namun catatan di benak orang lain belum tentu sama.
Mengontrol pikiran dan tindakan sendiri saja sulit, konon lagi kalau kita harus mengontrol pikiran dan tindakan orang lain.
Kultur politik memang relatif cair dan penuh ketidakpastian.
Siapapun yang memilih jalan ini maka harus membiasakan diri dengan skema dan kultur yang ada.
Seperti bunyi adagium populis yang mengatakan bahwa dalam politik tidak ada lawan abadi dan juga tidak ada kawan yang abadi.
Semua berjalan dalam irama dinamis dan cair.
Politik tidak mengenal konsep baperisme.
Kerja- kerja membangun lobi juga harus terus diupayakan hingga titik dimana keputusan yang dibuat sudah mengikat secara regulasi.
Tidak ada kata final dalam membangun lobi politik.
Jangan heran bila ada keputusan-keputusan politik yang berubah di menit-menit terakhir.
Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa harapan harus diatur dan dikendalikan, karena harapan yang berlebihan hanya akan meninggalkan jejak frustasi, membangun sensitivitas yang tidak rasional.
Ini juga yang menjadi alasan kenapa setiap politisi membangun lobi dengan cara yang tertutup dari pantauan publik.
Mempublikasi proses pada satu sisi adalah bagian dari propaganda kepada kontestan yang lain, namun pada sisi yang lain juga berpotensi meninggalkan kesan jejak-jejak pecundang yang menurunkan tingkat elektabilitas di mata pemilih.
Menarik juga membaca motto pasukan Raider; Lakukan dengan cepat, senyap dan tepat.
*) PENULIS adalah Direktur Kajian Elektoral – ESGE Center.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Fajran-Zain-Direktur-Kajian-Elektoral.jpg)