KUPI BEUNGOH

Bustami Bakal 'Dimenangkan' Mualem 

Mualem tak akan pernah bisa menjadi tokoh Aceh. Mualem tak akan pernah belajar dari kesalahan. 

Editor: Yocerizal
Serambinews.com
Murdani Abdullah, mantan Sekretaris Juru Bicara DPA Partai Aceh 

Oleh: Murdani Abdullah *)

DIAKUI atau tidak, sosok paling rapuh saat ini adalah Mualem Muzakir Manaf. Setiap gerak-gerik Mualem akan jadi sorotan. 

Salah ucap dan tata bahasa akan jadi pembahasan panjang di sosial media, berhari-hari dan berbulan-bulan. 

Semakin sering Mualem tampil di depan publik, maka akan semakin besar pula peluang Bustami Hamzah untuk memenangkan Pilkada.

Mualem memang seorang panglima saat Aceh masih berkonflik. Mualem juga menjadi ikon pemersatu kombatan di Aceh dan simbol perlawanan Aceh terhadap Jakarta. 

Dua hal ini memang tak terbantahkan hingga kini.

Sayangnya, Aceh pasca-penandatangan damai dengan konflik, itu jelas berbeda.

Saat konflik, Mualem bisa dijaga ketat oleh Sofyan Dawood dan Irwandi Yusuf. Citranya dibangun dengan baik dan perlu kenalan 'orang dalam' yang cukup kuat untuk bisa mewawancarai sosok panglima prang Aceh itu.

Baca juga: Tu Sop Menjadi Syuhada saat Proses Pilkada

Baca juga: KPA dan PA Teunom Pasie Raya Tolak Penunjukan Ketua DPRK Aceh Jaya

Namun kondisi ini tak terbangun pascadamai. Mualem begitu terbuka di publik Aceh. Kondisi ini terjadi tanpa adanya tim sekaliber Sofyan Dawood dan Irwandi Yusuf seperti masa konflik.

Kekurangan dalam tata bahasa sering kali menjadi viral di sosial media Aceh. Diakui atau tidak, kondisi ini cukup membuat persepsi masyarakat Aceh bergeser, dari takjub menjadi bahan candaan.

Salah satu contohnya adalah pidato pertama pasangan Mualem-Dekfad di KIP Aceh beberapa waktu lalu. Salah ucap terus bakal menjadi sound trending di media sosial TikTok.

Sebagai mantan pengagum panglima, penulis menilai, harusnya kekurangan-kekurangan tersebut segera diperbaiki. 

Perlu tim yang kuat yang mendampingi Mualem atau sang panglima belajar dari kesalahan-kesalahan, dari waktu ke waktu.

Anehnya, yang terjadi selama ini adalah sebaliknya. Saat terjadi salah ucap atau tata bahasa Mualem yang salah dan berefek negatif, yang terjadi justru ramai-ramai dari tim Mualem, berlomba-lomba membenarkan statemen tersebut.

Demikian juga saat hal tersebut menjadi viral di sosial media, akan banyak orang-orang mencoba menjadi 'pahlawan' membela Mualem.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved