Kupi Beungoh
Tiga Alasan Aceh Butuh Satu Desa Satu Hafizh
KEHADIRAN satu penghafal Al-Qur'an (Hafizh) di setiap desa bukan hanya sebuah gagasan ideal, tetapi juga kebutuhan mendesak yang harus diwujudkan
Ketiga, problem tajwid juga sering kita temui di kalangan imam shalat jama'ah di masjid-masjid.
Sebagai makmum, saya pribadi kerap mendengar imam yang tidak tepat dalam membaca ayat-ayat Al-Qur'an.
Memang, hanya sebagian kecil yang memiliki masalah tajwid, namun ini tetap menjadi persoalan serius karena imam adalah panutan dalam ibadah shalat.
Bacaan yang salah akan mengurangi kekhusyu'an dan kualitas shalat jama'ah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)." (QS. Al-Muzzammil: 4).
Ayat ini menekankan pentingnya membaca Al-Qur'an dengan tartil, yaitu memperhatikan setiap huruf, makhraj, dan aturan tajwid.
Jika hal ini diabaikan, maka bacaan Al-Qur'an tidak akan sempurna, dan bisa berdampak pada pemahaman serta pengamalan yang kurang tepat terhadap ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya.
Oleh sebab itu, dalam hal ini, para Hafizh Al-Qur'an memiliki peran penting sebagai imam yang mampu membimbing shalat jama'ah dengan bacaan yang benar dan sesuai tajwid.
Pentingnya Bacaan Al-Qur'an yang Benar
Membaca Al-Qur'an dengan benar bukan hanya soal teknis, melainkan langkah awal untuk menjadi lebih akrab dengan Al-Qur'an dan menjadikannya pedoman hidup.
Allah SWT menjanjikan kebahagiaan di dunia dan pahala besar di akhirat bagi mereka yang membaca Al-Qur'an dengan benar dan mengamalkannya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur'an, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat." (HR. Muslim).
Hal ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an dengan benar bukan hanya mendatangkan pahala, tetapi juga membuka jalan menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Ketika seseorang mampu membaca Al-Qur'an dengan tartil, ia akan lebih memahami makna yang terkandung di dalamnya dan lebih mudah mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks kehidupan sosial, Al-Qur'an juga berperan sebagai pedoman yang menjaga umat Islam dari perpecahan dan kerusakan moral. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Dan berpegang teguhlah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai." (QS. Ali Imran: 103).
Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu bersatu di bawah naungan Al-Qur'an, dan salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan memastikan setiap individu, terutama para pemimpin dan tokoh masyarakat, memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an yang baik.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.