Breaking News

Kupi Beungoh

Tiga Alasan Aceh Butuh Satu Desa Satu Hafizh

KEHADIRAN satu penghafal Al-Qur'an (Hafizh) di setiap desa bukan hanya sebuah gagasan ideal, tetapi juga kebutuhan mendesak yang harus diwujudkan

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD), Dr. Teuku Zulkhairi 

Oleh: Dr Teuku Zulkhairi 

KEHADIRAN satu penghafal Al-Qur'an (Hafizh) di setiap desa bukan hanya sebuah gagasan ideal, tetapi juga kebutuhan mendesak yang harus diwujudkan oleh para pemimpin Aceh

Semua kandidat pemimpin di Aceh perlu memahami betapa pentingnya gagasan ini dan menjadikannya sebagai salah satu visi utama yang harus diperjuangkan jika kelak mereka diberi kepercayaan oleh masyarakat.

Dan ucapan terimakasih kita ucapkan kepada kandidat manapun yang memilki visi ini serta kita berharap agar semua kandidat memiliki visi ini. Ini adalah kelas visi kebaikan dan penting untuk Aceh

Jadi, sekarang pembaca mungkin akan bertanya,  mengapa kehadiran satu Hafizh di setiap desa di Aceh begitu krusial? Karena setidaknya ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi kebutuhan ini:

Pertama, realitas yang kita hadapi menunjukkan bahwa masih banyak di antara pemimpin dan calon pemimpin Aceh yang belum mampu membaca Al-Qur'an dengan baik. 

Dari empat kandidat calon pemimpin Aceh pada Pilkada Aceh saat ini, dalam test baca Al-Qur'an beberapa waktu lalu hanya satu orang saja yang mampu membaca Al-Qur'an dengan lancar dan sesuai dengan kaidah tajwid. 

Bagi yang paham ilmu Tajwid tentu akan memiliki kesimpulan yang sama dengan saya jika ikut menyimak bacaan Alquran para Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh beberapa waktu lalu.

Hal ini menjadi tanda bahwa kemampuan membaca Al-Qur'an masih jauh dari ideal, bahkan di kalangan elit politik yang seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat.

Padahal, Rasulullah Saw telah bersabda bahwa “Sebaik-baiknya ibadah umatku adalah membaca Al-Qur’an.” (HR. al-Baihaqi). Lalu, bagaimana bisa membaca Al-Qur'an dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam memimpin jika membacanya salah ? 

Begitu juga, sebuah  hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi). 

Hadis ini memberikan pesan yang sangat jelas bahwa pemahaman dan kemampuan membaca Al-Qur'an dengan baik adalah hal yang sangat utama dan harus diperjuangkan, terutama bagi mereka yang berada di posisi sebagai pemimpin.

Kedua, banyak di antara guru-guru agama di Aceh yang juga belum mampu membaca Al-Qur'an dengan fasih. 

Setelah ikut terlibat dalam bagian dari tim penguji Ujian Komprehensif pada Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), saya seringkali mendapati kenyataan bahwa sejumlah guru agama yang mengikuti ujian masih kesulitan dalam melafalkan huruf-huruf Al-Qur'an dengan tepat, baik dari segi makhraj huruf (tempat keluarnya huruf) maupun mad-nya (panjang pendek bacaan). 

Jika guru agama saja masih bermasalah dalam bacaan Al-Qur'an, maka bagaimana mungkin mereka bisa memberikan teladan yang baik bagi murid-muridnya?

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved