Kupi Beungoh
Wakaf Aceh Prioritas Utama Mualem – Dek Fadh
Pemilihan Gubernur (Pilgub) Aceh periode 2025-2030 kali ini menjadi salah satu momen baru dalam perjalanan hidup saya
Oleh: Fahmi M. Nasir*)
Pemilihan Gubernur (Pilgub) Aceh periode 2025-2030 kali ini menjadi salah satu momen baru dalam perjalanan hidup saya. Betapa tidak, kali ini saya diminta untuk terlibat secara aktif dalam dunia politik di Aceh.
Sebelum ini saya hanya mengikuti setiap perkembangan politik di Aceh dari jauh. Kadang kala saya juga berinteraksi secara langsung dengan para politisi Aceh dari berbagai partai.
Intensitas interaksi ini meningkat tajam ketika saya mulai dipercaya oleh almarhum Tan Sri Sanusi Junid menjadi salah seorang stafnya.
Sejak saat itu, tidak terhitung berapa ramai para politisi dan tokoh masyarakat Aceh datang silih berganti menemui Tan Sri Sanusi.
Setiap kali para politisi ini datang menjumpainya, Tan Sri Sanusi memberikan kesempatan untuk saya ikut dalam pertemuan itu.
Untuk konteks Aceh, saya ingat betul sejak pertama sekali Pilgub Aceh periode 2007-2012, menjelang proses pemilihan ataupun setelahnya, para politisi di Aceh itu datang berjumpa dengan Tan Sri untuk berbagai tujuan.
Saya juga menjadi salah satu saksi pertemuan Tan Sri Sanusi pada tahun 2015, dengan dua tokoh Aceh yang sedianya menjadi kontestan yang akan saling berhadapan dalam Pilgub kali ini.
Mereka adalah almarhum Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop) dan Muzakir Manaf (Mualem).
Ketika itu Mualem menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017 dan Tu Sop adalah salah seorang penasehat kepercayaannya.
Setelah pertemuan yang berlangsung tahun 2015 itu, saya masih tetap menjaga hubungan silaturrahmi dengan keduanya.
Kebetulan juga banyak rekan-rekan saya yang memiliki hubungan yang rapat dengan kedua tokoh ini, sehingga komunikasi dengan kedua tokoh ini tetap terjalin dengan baik.
Baca juga: Mualem dan Brutus dalam Drama Pilkada 2024
Sejak awal tahun ini, ada seorang rekan sering mengajak diskusi tentang bagaimana potensi pengembangan wakaf di Aceh khususnya dan di Indonesia secara umum.
Saya yang kebetulan rajin mengikuti perkembangan sektor wakaf dan tren yang terjadi dalam sektor ini di berbagai belahan dunia, tentu saja sangat senang jika ada yang mengajak berbicara tentang wakaf.
Komunikasi ini semakin intens jika ada satu dua tulisan opini saya tentang wakaf dimuat di media tanah air.
Kemudahan Tanpa Tantangan, Jalan Sunyi Menuju Kemunduran Bangsa |
![]() |
---|
Memaknai Kurikulum Cinta dalam Proses Pembelajaran di MTs Harapan Bangsa Aceh Barat |
![]() |
---|
Haul Ke-1 Tu Sop Jeunieb - Warisan Keberanian, Keterbukaan, dan Cinta tak Henti pada Aceh |
![]() |
---|
Bank Syariah Lebih Mahal: Salah Akad atau Salah Praktik? |
![]() |
---|
Ketika Guru Besar Kedokteran Bersatu untuk Indonesia Sehat |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.