Opini
Tradisi Khanduri Bu dalam Masyarakat Aceh
Secara harfiah, khanduri bu berarti "kenduri nasi," yaitu kenduri yang menjadikan nasi sebagai elemen utama. Dalam budaya Aceh, nasi bukan sekadar mak
Abdul Manan, Guru Besar Ilmu Antropologi UIN Ar-Raniry pada Fakultas Adab dan Humaniora serta Ketua Prodi IAI Pascasarjana UIN Ar-Raniry
BULAN Sya'ban merupakan salah satu bulan yang kehadirannya selalu dinantikan oleh umat Islam. Bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriah ini diyakini sebagai bulan penuh rahmat dan berkah, sekaligus menjadi momentum untuk introspeksi diri serta memohon ampunan kepada Allah swt. Rasulullah Saw bersabda: "Bulan Sya'ban adalah bulan di mana Allah Swt mengampuni dosa-dosa hamba-Nya."Di Aceh, setiap bulan Sya'ban masyarakat memiliki tradisi khas yang rutin dilakukan, yakni khanduri bu. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini, masih lestari hingga kini dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Aceh. Secara harfiah, khanduri bu berarti "kenduri nasi," yaitu kenduri yang menjadikan nasi sebagai elemen utama. Dalam budaya Aceh, nasi bukan sekadar makanan pokok, tetapi juga simbol penghormatan kepada leluhur yang telah berpulang ke rahmatullah.
Masyarakat meyakini bahwa tradisi ini merupakan wujud kepedulian dan rasa hormat kepada arwah leluhur agar mereka memperoleh ampunan dosa dan limpahan pahala. Lebih dari sekadar ritual, khanduri bu juga mencerminkan solidaritas sosial. Keberkahan yang mengalir dari kenduri ini diyakini tidak hanya untuk arwah leluhur, tetapi juga bagi mereka yang masih hidup.
Tradisi ini menjadi sarana mempererat tali silaturahmi dengan keluarga, sahabat, dan tetangga, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Bagi masyarakat Aceh, bulan Sya'ban juga menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kesadaran spiritual dalam menyambut bulan Ramadhan.
Pelaksanaan dan tujuan
Secara umum, khanduri bu dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada ureung chi’ (nenek moyang) dan memperingati jasa mereka yang telah memberikan kesejahteraan kepada keturunannya. Sebagian masyarakat Aceh bahkan menganggapnya sebagai kewajiban. Ada keyakinan bahwa seseorang yang memperoleh kekayaan berkat warisan leluhur bisa kehilangan hartanya jika tidak melaksanakan khanduri bu di bulan Sya'ban. Keyakinan ini berkaitan dengan konsep ka keunong seurapa le ureung chi’ jih, yang berarti musibah dapat menimpa seseorang akibat melupakan keseahteraan para leluhur atau kurangnya penghormatan terhadap pemberian nenek moyang mereka.
Selain sebagai bentuk penghormatan, khanduri bu juga menjadi sarana berbagi. Biasanya, nasi dan lauk-pauk dibagikan kepada anak yatim serta fakir miskin di sekitar desa. Tradisi ini bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga manifestasi dari ketaatan kepada Allah Swt serta ikhtiar untuk menolak bencana. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Sedekah dapat menolak bencana dan memanjangkan umur." (HR. Tirmidzi). Hadis lain juga menyebutkan bahwa "Tidaklah seorang Muslim memberikan sedekah, kecuali akan dihindarkan dari bencana dan ditambahkan pahalanya." (HR. Muslim).
Dalam praktiknya, khanduri bu di Aceh juga melibatkan jak bak kubu ureueng chi’, yakni ziarah ke makam leluhur. Masyarakat Aceh meyakini bahwa berdoa bagi orang yang telah tiada di bulan Sya'ban memiliki nilai yang sangat besar. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Saw saat berdoa di Baqi’ (pemakaman di Madinah) dengan khusyu’ dan dengan air mata yang mengalir. Dia meminta kepada Allah untuk mengampuninya, leluhurnya, dan orang yang beriman lainnya. Secara turun-temurun, khanduri bu dilaksanakan dalam dua lingkup, yaitu dalam keluarga dan di tingkat komunitas desa.
Tingkat pelaksanaan
Dalam lingkup keluarga, khanduri bu biasanya dilakukan di rumah away (rumah induk) dan hanya melibatkan anggota keluarga serta sanak famili dekat. Tujuan utamanya, adalah mempererat hubungan antara yang masih hidup dengan ureung chi’ yang telah berpulang. Masyarakat Aceh meyakini bahwa hubungan antara orang yang masih hidup dan yang telah meninggal tidak terputus, terutama antara orang tua dan anak.
Keyakinan ini berlandaskan pada hadis Rasulullah, "Ketika anak Adam meninggal dunia, semua amalnya terputus kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa dari anak yang saleh." Bagi masyarakat Aceh, mendoakan leluhur bukan sekadar tradisi, tetapi kewajiban. Mereka percaya bahwa meskipun jasad telah lama tiada, ruh nenek moyang tetap mengenal keturunannya dan merasa bahagia ketika dikenang melalui doa dan kenduri.
Hal inilah yang membedakan khanduri bu dengan khanduri lainnya di bulan-bulan lain, seperti khanduri maulid (peringatan kelahiran Nabi) dan khanduri keu ureung matée (kenduri untuk orang yang telah meninggal). Jika dua khanduri terakhir bersifat terbuka untuk siapa saja, khanduri bu di bulan Sya'ban lebih eksklusif, diperuntukkan khusus bagi anak yatim dan fakir miskin.
Di masa lalu, tradisi ini diawali dengan pembacaan Al-Qur'an dan doa oleh teungku (ulama), serta pembakaran kemenyan dalam tempurung kelapa, yang diyakini sebagai sarana "memanggil" arwah nenek moyang. Namun, seiring perkembangan zaman, praktik ini semakin jarang dilakukan. Kini, masyarakat lebih banyak berbagi makanan dan memberikan santunan kepada mereka yang membutuhkan.
Di tingkat komunitas, khanduri bu biasanya diadakan di masjid atau meunasah (surau). Setiap kepala keluarga membawa idang, yakni hidangan nasi dan lauk-pauk dalam talam atau rantang. Kadang-kadang, warga sepakat mengumpulkan iuran (meuripee) untuk membiayai kenduri secara kolektif. Makanan yang terkumpul kemudian dibagikan kepada anak yatim, fakir miskin, serta penduduk desa yang telah diundang. Selain makan bersama, acara ini juga diisi dengan ceramah agama oleh teungku. Setelah ceramah, imam masjid membacakan doa khusus, kemudian anak-anak yatim dipersilahkan berdiri untuk menerima sedekah yang diisi dalam amplop dari para tetua desa.
Menariknya, dalam tradisi ini, setiap orang menghindari makan idang yang mereka bawa sendiri. Mereka hanya menyantap hidangan yang dibawa oleh orang lain. Hal ini mencerminkan nilai berbagi yang kuat dalam budaya Aceh. Demikianlah khanduri bu dalam kehidupan masyarakat Aceh. Tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga warisan budaya yang kaya akan makna. Ia mengajarkan penghormatan kepada leluhur, memperkuat solidaritas sosial, serta menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah swt.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.