Kupi Beungoh
Politik Itu Suci: Mari Kita Bela yang Benar dan yang Lemah
Sayangnya, dalam praktiknya, politik kerap tercemar oleh korupsi, manipulasi, dan kepentingan pragmatis.
Inilah ujian sejati integritas seorang politisi: apakah tetap setia pada idealisme dan suara nurani, atau justru tergoda oleh gemerlap kekuasaan.
Sementara itu, membela yang lemah merupakan perwujudan nyata dari empati dan tanggung jawab sosial.
Politik sejatinya harus berpihak kepada mereka yang tidak memiliki suara, yang terpinggirkan dalam pembangunan, dan yang hidup dalam ketidakadilan: rakyat miskin, penyandang disabilitas, anak-anak terlantar, perempuan korban kekerasan, serta kelompok minoritas.
Mereka semua membutuhkan kehadiran negara melalui kebijakan-kebijakan yang adil dan berpihak.
Saya meyakini bahwa pendidikan politik yang benar akan melahirkan generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kebijaksanaan moral.
Di sinilah peran institusi pendidikan, masyarakat sipil, tokoh agama, dan media menjadi sangat penting.
Kita harus mengajarkan kepada generasi muda bahwa politik bukan dunia yang harus dijauhi, melainkan arena yang perlu dibersihkan dan dibenahi demi kebaikan bersama.
Kesadaran akan kesucian politik harus tumbuh dari dalam hati.
Ia lahir dari keinginan tulus untuk berbuat baik dan melawan segala bentuk ketidakadilan.
Kita tidak bisa terus membiarkan politik menjadi sekadar ajang perebutan kekuasaan tanpa nilai-nilai luhur.
Sudah saatnya politik menjadi ladang subur bagi lahirnya pemimpin yang visioner, rendah hati, dan peduli terhadap rakyat.
Perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil.
Mari kita mulai dengan berani menyuarakan pendapat, aktif dalam komunitas, memilih pemimpin yang jujur dan berintegritas, serta mengawasi jalannya pemerintahan dengan kritis dan konstruktif.
Setiap dari kita memiliki peran penting dalam menjaga kesucian politik.
Kita tidak harus menjadi pejabat atau politisi untuk berpolitik dengan benar.
| Perang dan Damai - Bagian 12, Perpanjangan Gencatan Senjata, Persiapan Perdamaian |
|
|---|
| Saatnya Wakaf Harus Naik Kelas, Dari Aset Diam Menjadi Kekuatan Umat |
|
|---|
| PR untuk Rektor di Aceh: Alumni Universitas Menganggur Makin Tinggi |
|
|---|
| Earth Day: Saatnya Pendidikan Menjawab Krisis Lingkungan |
|
|---|
| Menjawab Tuduhan “Logical Fallacy” dalam Polemik JKA |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta_19042024.jpg)