Kupi Beungoh
Epigenetika Aceh Singkil: Pelajaran dari Catalonia, Mindanao, dan Skotlandia
Dalam masyarakat pascakonflik seperti Aceh, memori kolektif dan semangat perlawanan bisa berfungsi layaknya gen epigenetik
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
RESISTENSI--atau dalam bentuknya yang lebih tajam: pemberontakan--adalah kata kunci yang kerap muncul dan menghilang dalam sejarah wilayah-wilayah bekas konflik.
Dunia telah menyaksikan bagaimana Skotlandia mempertahankan semangat otonominya sejak 1707 dan kembali memuncak pada referendum 2014.
Catalonia mengalami gelombang resistensi yang kuat sejak era dictator, Jenderal Franco hingga krisis konstitusional 2017.
Sementara Mindanao Selatan, Filipina, menyusuri jalan panjang konflik bersenjata dan negosiasi politik selama lebih dari lima dekade sebelum akhirnya mencapai perjanjian damai, namun masih belum sangat finał.
Semua kisah itu menunjukkan bahwa resistensi bukan sesuatu yang lahir tiba-tiba, melainkan hasil dari akumulasi ketidakpercayaan, luka sejarah, dan cara pusat memperlakukan pinggiran secara tidak empatik.
Resistensi bisa menguat dan melemah, muncul lalu surut, bukan karena masyarakat lupa atau lelah, melainkan karena mereka menunggu isyarat.
Mereka melihat dan menunggu, apakah negara berubah menjadi lebih mendengar atau tetap abai.
Dalam hal ini, biologi menawarkan satu konsep yang sangat relevan: yakni “epigenetika”.
Istilah atau konsep ini menjelaskan bahwa gen tertentu dalam tubuh makhluk hidup bisa “bangkit kembali” setelah lama tidak aktif, dipicu oleh tekanan lingkungan, trauma, atau perubahan kondisi.
Gen Epigenetik
Dalam masyarakat pascakonflik seperti Aceh, memori kolektif dan semangat perlawanan bisa berfungsi layaknya gen epigenetik--tidak selalu tampak, tapi tetap ada, menunggu saat untuk bangkit ketika negara kembali keliru membaca ruang batin warganya.
Di laboratorium genetika, para ilmuwan diajar oleh epigenetika dalam menjelaskan bagaimana ekspresi gen dalam tubuh makhluk hidup bisa berubah tanpa mengubah struktur DNA-nya.
Gen yang tadinya “tidur” atau tidak aktif bisa tiba-tiba aktif kembali karena pengaruh lingkungan--seperti stres, atau paparan zat kimia tertentu.
Fenomena ini telah membuka pemahaman baru bahwa warisan biologis kita tidak hanya bersifat statis, tetapi juga responsif terhadap pengalaman.
Namun apa jadinya jika kita membawa lensa epigenetik ini keluar dari laboratorium dan mengarahkan sorotnya ke ruang sosial?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/foto-ahmad-humam-hamid-terbaru.jpg)