Kamis, 9 April 2026

Kupi Beungoh

Kepemimpinan dan Imajinasi Kebangsaan: Singkil, SBY, JK, dan Prabowo

Keputusan tentang empat pulau ini, jika diambil dengan kesadaran akan geografi kepemilikan, bisa menjadi titik balik penting dalam relasi pusat dan da

Editor: Muhammad Hadi
For Serambinews
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

Dalam sejarah bangsa, selalu ada momen di mana peta bukan hanya sekumpulan garis dan warna, tetapi medan ujian bagi jiwa kebangsaan. 

Sengketa empat pulau di perbatasan Aceh dan Sumatera Utara bukan sekadar perkara koordinat atau administrasi, melainkan panggilan untuk menakar ulang kepekaan negara terhadap geografi kekuasaan dan geografi kepemilikan. 

Dan di persimpangan inilah, tiga sosok negarawan — Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, dan Prabowo Subianto — membawa resonansi moral dan politik yang dapat membentuk arah sejarah.

Presiden ke-6, SBY, dikenal sebagai pemimpin yang tenang namun berhati-hati. 

Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya kepastian hukum dan ketelitian dalam membaca dasar hukum administratif mengenai keempat pulau itu. 

Perspektifnya mencerminkan watak teknokratis yang percaya pada kekuatan dokumen, prosedur, dan kehati-hatian sebagai fondasi legitimasi negara. 

Namun dari situ pula tersirat kekhawatiran: jangan sampai negara, karena gegabah atau populis, mengorbankan stabilitas demi memuaskan tekanan jangka pendek.

Di sisi lain, Jusuf Kalla, negosiator ulung yang sudah terbiasa menghadapi daerah konflik, tampil dengan pendekatan yang lebih lentur dan pragmatis. 

Ia mengingatkan pentingnya keadilan historis dan keseimbangan sosial-politik. Dalam pandangan JK, empat pulau ini bukan hanya soal legalitas, tapi juga tentang rasa keadilan warga Aceh yang merasa diabaikan. 

Baca juga: BREAKING NEWS - Massa Bawa Spanduk "Aceh Melawan", Protes Keputusan Mendagri Soal 4 Pulau di Singkil

Ia bicara dalam bahasa kemanusiaan. Jangan sampai negara kehilangan kepercayaan publik hanya karena gagal mendengar denyut nadi dari bawah.

Dan di tengah dua figur senior itu, kini berdiri Prabowo — presiden terpilih yang akan mewarisi bukan hanya mandat politik, tapi juga persoalan pelik yang menyentuh akar sejarah dan emosi kolektif. 

Prabowo bukan teknokrat seperti SBY, dan bukan perunding seperti JK. Ia adalah pemimpin yang dibentuk oleh disiplin militer dan intuisi geopolitik. Namun justru dari situlah muncul peluang. 

Apakah Prabowo bersedia melampaui nalar kekuasaan demi membangun kembali narasi kebangsaan dari titik-titik pinggiran seperti Singkil?

Jika ketiganya disatukan dalam satu narasi, maka terbentuklah simfoni kepemimpinan yang langka. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved