Salam
Penyebab Krisis Elpiji 3 Kg Harus Diusut Tuntas
HARIAN Serambi Indonesia edisi Senin (16/6/2025) memberitakan, warga Sabang saat ini dihadapkan pada sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 kg.
HARIAN Serambi Indonesia edisi Senin (16/6/2025) memberitakan, warga Sabang saat ini dihadapkan pada sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 kg. Padahal, disebut-sebut tidak terjadi kelangkaan gas subsidi di Pulau Weh. Pantauan Serambi di sejumlah titik, terjadi antrean panjang warga di pangkalan elpiji 3 kg. Sementara di kios-kios tak resmi justru terpantau menjual ‘gas melon’ dalam jumlah besar dengan harga tak wajar.
Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah pangkalan gas di kawasan SPBU Bay Pass yang melayani kawasan padat penduduk yakni Jurong Dapu Bata, Jurong Tanoh Buju, dan Jurong Mulia. “Saya datang kurang dari jam 7 pagi, tapi sudah ramai yang antre. Sayangnya, puluhan orang harus pulang dengan kecewa karena tidak kebagian gas,” ungkap Murniati, warga Jurong Dapu Bata, Minggu (15/6/2025).
Sementara menurut keterangan petugas pangkalan, Ipan, masalahnya bukan pada distribusi harian, tapi pada jumlah tabung yang masuk dan sistem pendistribusian yang kaku. Dikatakan, dalam dua hari hanya tersedia 50 tabung, sementara jumlah warga yang membutuhkan jauh melampaui itu. Menurut Ipan, terbatasnya tabung jadi hambatan utama karena distributor tak mengizinkan pengambilan tabung di luar kuota yang ada.
Ironisnya, di tengah kondisi ini, lapangan juga ditemukan banyak kios yang menjual elpiji 3 kg dengan harga di luar kewajaran, bahkan mencapai Rp50.000 per tabung. Padahal, harga resmi di pangkalan hanya Rp27.000 per tabung. Masyarakat berharap Pemko Sabang bersama pihak kepolisian segera turun menyelidiki kondisi ini. Sehingga, distribusi gas subsidi itu adil, transparan, dan benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang membutuhkan.
Kelangkaan elpiji 3 kg seperti yang terjadi di Sabang bukanlah hal baru di Aceh. Masalah ini sudah lama terjadi dan masyarakat di hampir semua kabupaten/kota di Tanah Rencong ini pernah merasakan krisis gas subsidi tersebut. Meski demikian, masalah dimaksud hingga sekarang belum juga teratasi. Akibatnya, kelangkaan elpiji 3 kg terus berulang dan terkadang hanya tempatnya saja yang berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Karena itu, sudah saatnya pemerintah bersama PT Pertamina, pihak kepolisian, dan lembaga terkait lain segera mengusut tuntas penyebab kelangkaan elpiji 3 kg yang masih terus-menerus terjadi.
Jika krisis itu terjadi akibat terbatasnya distribusi, maka Pertamina harus menambah pasokan ke distributor. Namun, jika kelangkaan gas subsidi untuk masyarakat miskin itu terjadi karena berbagai penyelewengan, maka pelakunya harus ditindak tegas dan diberi sanksi sesuai hukum yang berlaku. Penyelewengan dimaksud seperti penyaluran tak tepat sasaran oleh distributor atau agen resmi, praktik pengoplosan dan penimbunan oleh pihak-pihak yang hanya mementingkan keuntungan pribadi, serta perbedaan harga yang terlalu jauh antara elpiji 3 kg dan elpiji nonsubsidi.
Upaya mengatasi krisis elpiji 3 kg perlu menjadi salah satu prioritas pemerintah dan Pertamina karena gas subsidi ini termasuk dalam kategori barang penting dan merupakan kebutuhan pokok bagi banyak rumah tangga dan usaha mikro di Indonesia. Tanpa pengawasan ketat dan tindakan tegas dari pihak berwenang, maka kondisi ini bisa terus dimanfaatkan oleh sejumlah oknum untuk meraup untung pribadi di tengah penderitaan masyarakat.
Dengan diketahuinya penyebab kelangkaan yang diiringi pengawasan ketat dan penindakan tegas terhadap siapa saja yang melanggar aturan, maka dapat kita pastikan distribusi gas subsidi ini akan lebih merata dan tepat sasaran serta terjangkau oleh masyarakat miskin dan harganya sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah. Semoga! (*)
POJOK
Pertahankan kekompakan Aceh, kata Anggota DPR RI Ruslan M Daud
Biasanya, kalau pembagian ‘tumpok’ tidak sesuai harapan pasti kekompakan akan buyar sendiri kan?
Sejumlah titik panas terdeteksi di Aceh
Sengketa 4 pulau antara Aceh dan Sumut juga tak kalah panas kan?
Anggota DPRK dilaporkan istri ke polisi gegara menikah lagi
Kalau sudah begini namanya nikmat membawa sengsara ya? He..he..he…
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.