Jumat, 10 April 2026

Kupi Beungoh

Meuseuraya Pendidikan: Menenun Harapan, Menyulam Karakter di Era Digital

Sejarah pendidikan Aceh Barat terlalu berharga untuk diulang dengan pola lama semangat tinggi saat rembuk, tapi sunyi dalam tindak lanjut.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Kepala MTsN 3 Aceh Barat, Fauzan, S. Ag., M. Ag 

Oleh: Fauzan, S. Ag., M. Ag

DI TENGAH dinamika perubahan zaman yang serba cepat, Kabupaten Aceh Barat menorehkan catatan penting dalam ikhtiar membangun peradaban pendidikan yang berakar pada nilai-nilai islami dan kearifan lokal.

Dengan semangat “Meuseuraya Membangun Ekosistem Pendidikan yang Berakhlak Islami, Kolaboratif dan kompetitif”.

Rembuk yang diinisiasi oleh Majelis Pendidikan Daerah (MPD) ini bukan sekadar forum diskusi biasa. Ia menjadi ruang bertemunya pikiran-pikiran jernih, keresahan kolektif, dan harapan bersama dari berbagai elemen masyarakat pendidikan

Di hadapan para praktisi pendidikan, tokoh masyarakat, dan pemangku kebijakan, hadir tiga pemateri yang tak diragukan kapasitasnya, Martunis, Anas M. Adam dan Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (Prof. KBA), seorang antropolog yang telah lama menyuarakan pentingnya pendidikan berkarakter dalam lanskap digital.

Dalam paparannya yang menggugah, Prof. KBA mengingatkan bahwa ruang digital tidak lagi sekadar media, tetapi telah menjelma sebagai ruang sosial tempat karakter diproduksi setiap detik.

Maka, orang tua dan pendidik tidak bisa lagi bersikap pasif.

Mereka dituntut hadir, aktif, dan melakukan social engagement (keterlibatan sosial) yang bermakna dalam ruang-ruang digital yang kian luas dan tanpa batas jika tidak dibalut dengan suatu konsep yang jelas sehingga mampu memberikan dampak signifikan dalam mengatasi segala permasalahan muncul akibat tanpa dikontrol dengan aturan-aturan yang mengikat di suatu daerah.

Setelah sesi pemantik, para peserta dibagi dalam kelompok diskusi. Suasana menjadi lebih hidup ketika para guru, pegiat pendidikan, dan masyarakat mulai menguliti beragam tantangan yang dihadapi dunia pendidikan, terutama kekhawatiran terhadap penggunaan media digital yang tidak terkontrol oleh anak-anak usia sekolah.

Kecemasan itu nyata, tapi bukan tanpa solusi.

Forum ini tidak berhenti pada keluhan.

Dari dinamika diskusi kelompok, lahirlah berbagai rekomendasi strategis mulai dari pentingnya regulasi daerah yang pro terhadap pendidikan karakter, peningkatan literasi digital bagi guru dan orang tua, hingga perlunya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang kokoh dan holistik.

Satu hal yang sangat ditekankan oleh forum ini adalah membangun karakter bukan semata tugas guru dan sekolah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.

Pemerintah, orang tua, media, komunitas, bahkan lingkungan digital, semuanya harus bergerak seirama. Itulah esensi dari Meuseuraya Pendidikan, yaitu gotong-royong lintas peran untuk melahirkan generasi cerdas, santun, dan berakhlak islami.

Rembuk Pendidikan Aceh Barat ini telah menyalakan lentera perubahan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved