Minggu, 19 April 2026

KUPI BEUNGOH

Prabowo–Mualem: Prasyarat Nikmat dan Tiga Pilar Pembangunan - Bagian III

Aceh bukan daerah biasa, walaupun bukan luar biasa. Aceh adalah entitas politis dengan sejarah panjang perlawanan dan pencarian keadilan. 

|
Editor: Yocerizal
SERAMBINEWS.COM
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Namun kecerdikan saja tak cukup. Pemerintahan daerah yang efektif harus bertumpu pada kekuatan birokrasi yang sehat dan responsif. 

Birokrasi Aceh masih menghadapi tantangan serius. Aceh selama ini terjebak dengan pelayanan lambat, koordinasi lemah, dan rendahnya akuntabilitas. 

Jika Mualem ingin menghadirkan perubahan nyata, ia harus menjadikan birokrasi sebagai mesin pelayanan rakyat, bukan sekadar mesin upacara.

Langkah awalnya adalah pemulihan kepercayaan publik. Ini menuntut kesederhanaan prosedur, percepatan layanan dasar, dan ketegasan dalam penegakan etika administrasi. 

Birokrasi bukan hanya alat teknis, tetapi simbol kehadiran negara yang adil dan efektif.

Baca juga: Lowongan Kerja BPJS Kesehatan, Minimal D3 Penempatan di Aceh hingga Kantor Pusat, Cek Kualifikasinya

Baca juga: Kapan Seleksi CPNS 2025 Dibuka? Begini Penjelasan MenPAN-RB

Jika Mualem berhasil membenahi tubuh birokrasi Aceh, maka Prabowo akan melihat bahwa Aceh bukan lagi daerah dengan potensi yang terpendam, melainkan mitra strategis yang siap bergerak cepat.

Ketajaman Teknokratis

Pilar ketiga yang kerap terlupakan dalam wacana politik populis adalah ketajaman teknokratis. Banyak kebijakan Aceh selama ini lahir dari kepentingan jangka pendek, bukan dari perencanaan berbasis data. 

Akibatnya, pembangunan sering bersifat tambal sulam. Cukup banyak proyek hadir tanpa keberlanjutan, program diluncurkan tanpa kajian matang.

Aceh harus memulai era baru, yakni pembangunan berbasis riset, perencanaan berbasis data, dan pengambilan keputusan yang menghormati ilmu pengetahuan. 

Ini hanya mungkin jika Mualem mampu merangkul teknokrat lokal, akademisi, perencana, dan profesional muda untuk terlibat di pusat pengambilan kebijakan. 

Potensi sumber daya alam Aceh besar. Tapi tanpa peta yang akurat dan rencana yang fokus, ia akan tetap menjadi janji yang tertunda.

Teknokrasi bukan hanya soal efisiensi, tapi juga soal keberanian menentukan prioritas. Tidak semua bisa dibangun sekaligus. 

Maka diperlukan penajaman visi. Apa yang menjadi prioritas strategis jangka menengah, apa yang bisa ditunda, dan apa yang harus dikaji ulang. 

Inilah ukuran sejati dari kepemimpinan yang matang. Ini bukan siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling tepat menentukan arah.

Baca juga: Ini Poin-poin Penting dalam Perundingan Gencatan Senjata Israel-Hamas

Baca juga: Dalam Upacara Peringatan HUT Bhayangkara, Gubernur Aceh Ingatkan Polisi Pahami Kearifan Lokal

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved