KUPI BEUNGOH
Prabowo–Mualem: Prasyarat Nikmat dan Tiga Pilar Pembangunan - Bagian III
Aceh bukan daerah biasa, walaupun bukan luar biasa. Aceh adalah entitas politis dengan sejarah panjang perlawanan dan pencarian keadilan.
Momen Penting untuk Membuktikan
Ketiga pilar ini: politik cerdas dan cerdik, birokrasi bersih dan cepat, serta teknokrasi yang terukur, bukan jalan pintas. Ia adalah jalan panjang, berliku, naik turun, menuju perubahan yang tahan uji.
Tapi justru dalam jalan panjang itulah rahmat diuji, apakah ia tumbuh menjadi nikmat bersama, atau sekadar nostalgia belaka.
Prabowo, dengan segala kekuasaan yang ia pegang, bukanlah tipe pemimpin yang mudah terkesima oleh basa-basi.
Ia menghargai loyalitas, tetapi menuntut bukti kemampuan. Ia melihat sahabat sebagai mitra kerja, bukan sekadar pemilik kartu sejarah.
Maka, jika Mualem ingin menjadikan kedekatannya sebagai kekuatan, ia harus menunjukkan bahwa Aceh bisa menjadi contoh dari daerah yang bangkit melalui kerja keras dan kecakapan.
Aceh, dengan sejarah dan potensi yang dimilikinya, sedang berada dalam posisi strategis. Dunia sedang berubah cepat. Sentralisasi makin ditantang oleh tuntutan otonomi bermartabat.
Dalam dunia yang makin kompetitif, kekuatan daerah tidak lagi diukur dari narasi lama tentang perlawanan, tetapi dari kemampuan mengelola diri secara mandiri dan inovatif.
Kita tak kekurangan harapan. Yang kurang adalah desain besar yang mampu menampung harapan itu dan menjadikannya aksi kolektif.
Dan desain itu tak bisa dibangun dari nostalgia semata, melainkan dari pertemuan antara visi politik yang cerdik, sistem birokrasi yang bersih, dan perencanaan teknokratik yang jernih.
Inilah momen penting untuk membuktikan bahwa rahmat dalam bentuk kedekatan personal dengan kekuasaan nasional bukanlah sekadar keberuntungan sejarah, tetapi amanah untuk melahirkan sejarah baru.
Baca juga: Sempat Dibatalkan, Donasi Rp 1,5 Miliar untuk Agam Rinjani Segera Ditransfer Tanpa Potongan
Baca juga: Buaya Masih Berkeliaran, Warga Peureulak Aceh Timur Takut Beraktivitas
Sejarah di mana Aceh tidak lagi berdiri di pinggir panggung nasional, tetapi duduk di pentas nasional dengan martabat.
Jika itu tercapai, maka kedekatan Prabowo dan Mualem akan dikenang bukan sebagai romantika dua sahabat lama, tetapi sebagai fondasi dari sebuah lompatan sejarah.
Sebuah lompatan yang membawa Aceh dari pinggiran kekuasaan menjadi pusat percontohan dalam geografi kebangsaan Indonesia. (Bersambung)
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/foto-ahmad-humam-hamid-terbaru.jpg)