Selasa, 7 April 2026

KUPI BEUNGOH

Prabowo–Mualem: Prasyarat Nikmat dan Tiga Pilar Pembangunan - Bagian III

Aceh bukan daerah biasa, walaupun bukan luar biasa. Aceh adalah entitas politis dengan sejarah panjang perlawanan dan pencarian keadilan. 

|
Editor: Yocerizal
SERAMBINEWS.COM
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh : Ahmad Humam Hamid *)

DALAM lanskap politik Aceh, nama Muzakir Manaf (Mualem) dan Prabowo Subianto telah lama terjalin dalam sejarah perlawanan, persahabatan, dan harapan. 

Kini, saat Aceh berdiri di persimpangan antara stagnasi dan kemajuan, kedekatan historis mereka tak cukup hanya menjadi narasi romantis. Ia harus bermetamorfosis menjadi energi transformasi nyata.

Namun, kedekatan itu hanya akan menjadi rahmat bila dijalankan dengan tiga prasyarat utama: kecerdasan dan kecerdikan politis, kekuatan birokratis-administratif, dan ketajaman teknokratis. 

Tanpa ketiganya, rahmat itu akan layu sebelum tumbuh menjadi nikmat. Ini bukan hanya soal apa yang bisa dilakukan Mualem, tetapi apa yang mampu dicapai Aceh dengan peluang langka ini. 

Kecerdasan Politis

Aceh bukan daerah biasa, walaupun bukan luar biasa. Aceh adalah entitas politis dengan sejarah panjang perlawanan dan pencarian keadilan. 

Relasinya dengan pusat tak bisa diselesaikan semata melalui struktur formal. Ia menuntut sentuhan politis yang peka dan komunikatif. 

Dalam konteks ini, Mualem memiliki kekuatan tersendiri. Ia tidak hanya menguasai peta politik lokal, tetapi juga memahami denyut sosial dari desa ke desa, dari pimpinan partai hingga tokoh adat.

Namun, untuk menjadikan kekuatan itu relevan di hadapan pemerintahan Prabowo, ia harus melampaui sekadar pengaruh simbolik. 

Ia perlu menunjukkan kecerdasan politis. Diperlukan kemampuan membaca arah kekuasaan, membangun dialog strategis, serta menautkan kepentingan Aceh dengan agenda nasional tanpa kehilangan akar lokal.

Baca juga: Mabes TNI AD Buka Suara terkait Lapangan Blang Padang, Kadispenad Beri Jawaban Tegas

Baca juga: Blang Padang Antara Status dan Harapan Rakyat Aceh

Dan lebih dari itu, ia harus memainkan kecerdikan politis, yakni seni mencari celah di tengah kebuntuan, memainkan peluang tanpa mengorbankan prinsip.

Cerdas adalah tahu arah, sementara cerdik adalah tahu cara. Gabungan keduanya akan membuat Prabowo melihat bahwa sahabat lamanya bukan sekadar pewaris masa lalu, tetapi negosiator masa depan. 

Ini bukan seni mengemis perhatian, melainkan seni menawarkan kemitraan.

Kekuatan Birokrasi

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved