Jurnalisme Warga
Melestarikan Adat Aceh Dalam Pesta Perkawinan
adat dan budaya Aceh tergolong unik. Salah satunya adalah adat perkawinan yang setiap segmen tradisinya menyimpan makna dan filosofis tersendiri.
Ketika tiba di gerbang, dara baro disambut oleh beberapa tuan rumah yang berseragam batik, didampingi oleh orang tua Gampong Pulo Kiton. Mereka menaburkan gabah (breuh padee), bunga rampai (bungong rampoe) dan on seuneujeuk (daun untuk tepung tawar). Setelah itu, rombongan dara baro disambut juga dengan tarian ranup lampuan (tari pemulia tamu/jamee) oleh Sanggar Bungong Seulanga. Personel sanggar ini terdiri atas para mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Uniki dan beberapa mahasiswi dari fakultas lainnya.
Setelah mengikuti rangkaian acara penyambutan, rombongan kemudian dijamu di ruangan besan.
Tamu kehormatan yang pertama hadir pada saat itu adalah Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah SE beserta rombongan dari Banda Aceh.Wagub yang akrab disapa Dek Fadh, dan mudah senyum ini, menjadi sasaran para tamu undangan untuk diajak foto bersama.
Pelaminan Aceh yang digunakan dalam pesta perkawinan adat Aceh ini didesain modern dan berdiri megah di tengah halaman yang luas. Ciri khasnya didominasi warna emas, hijau, kuning, dan merah, dilengkapi ornamen dekorasi yang kaya akan motif khas Aceh, seperti pinto Aceh, rencong, bungong seulanga, dan lainnya.
Dekorasi tempat acara yang bercorak khas Aceh terasa teduh dan asri, membuat para tamu nyaman karena dikelilingi rangkaian bunga hidup di setiap sudutnya.
Acara ‘tueng dara baro’ ini semakin meriah karena penampilan tari piring dan ratoh jaroe dari Sanggar Bungong Seulanga Uniki. Para tamu terlihat enggan beranjak dari tempat duduknya, bahkan ada yang berdiri mendekati pelaminan untuk menyaksikan tarian yang disuguhkan.
Pada sesi kedua, pengantin berganti pakaian adat Aceh Tenggara, mengingat
Ibu Nuryani, ibu kandung ‘linto baro’, berasal dari Aceh Tenggara. Pakaian adat Alas ini dinamakan ‘meksihat’. Dalam bahasa Alas, ‘tesikhat’ berarti mengaplikasikan motif hias yang ada di pikiran tanpa membuat sketsa, dan diaplikasikan kepada benda atau objek.
Kedua pengantin—Muhammad Ridwan dan Bunga Devi—terlihat anggun di bawah balutan pakaian adat Alas tersebut, walaupun lelah karena berkali-kali melayani foto bersama keluarga dan para undangan.
Ke acara yang meriah ini, turut hadir Ketua DPR Aceh, Zulfadhli dan rombongan, yang disambut oleh tuan rumah dan beberapa pejabat lainnya. Putra kelahiran Samalanga, Kabupaten Bireuen, ini dikenal dengan sebutan Abang Samalanga.
Acara ‘tueng dara baro’ ini didukung oleh ±75 personel di bawah komando Kamaruddin. Alhamdulillah, setiap tahapan acara berlangsung tertib, rapi, dan terkendali.
Kosumsi untuk acara ini dipercayakan kepada Mutia Catering Bireuen ditambah dengan hidangan ‘kuwah beulangong’ (gulai kari sapi) dari Lem Bakrie yang terkenal lezat. Lem Bakrie mendatangkan anak buahnya dari Banda Aceh untuk menyiapkan hidangan istimewa ini.
Pada penutupan acara sore, hadir pula tamu paling istimewa, yakni Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem beserta rombongan. Di tengah kesibukannya memimpin provinsi ini, Mualem menyempatkan diri memenuhi undangan tuan rumah. Sseluruh panitia, mahasiswa Uniki, dan tamu yang hadir berkumpul ingin bersalam langsung dan foto bareng dengan orang nomor 1 Aceh yang tanpan itu.
Perhelatan di rumah Pak Amiruddin ini sungguh menakjubkan, dikelola dengan baik dan rapi, sekaligus memadukan dua adat, yakni adat Aceh (asal Pak Amir) dan adat Alas (asal istrinya).
Rangkaian acara yang dibalut dengan adat perkawinan Aceh memang perlu terus dilestarikan dengan melibatkan kawula muda sebagai motor penggeraknya. Promosinya pun bisa melalui media sosial atau platform lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/CHAIRUL-BARIAH-OKE-BANGET-HEHEHE.jpg)