Selasa, 14 April 2026

Liputan Eksklusif Aceh

Siapa di Balik Maraknya Pencurian Sawit di Aceh Singkil?

Nahasnya maling tak hanya mencuri sawit matang. Tetapi sawit mentah pun digasak. Kondisi itu, membuat korban mengalami dua kali kerugian sekaligus.

Penulis: Dede Rosadi | Editor: Safriadi Syahbuddin
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
KEBUN SAWIT - Perkebunan kelapa sawit milik petani Aceh Singkil, di kawasan Singkil Utara, Senin (28/7/2025). 

Pengambilan brondolan juga kerap dijadikan alasan oleh pelaku pencurian. 

Dalam aksinya pelaku mengaku mencari brondolan, akan tetapi sawit yang ada di batang ikut diambil. 

Modus aksinya dilakuan dengan memanen sawit yang ada di batang dalam kondisi masak maupun mentah.

Setelah jatuh disembunyikan di semak belukar, setelah sawit rontok dari janjang barulah diambil dengan dalih mengambil brondolan. 

"Pencurian sawit masih sangat marak dan jadi salah satu masalah di Kabupaten Aceh Singkil," kata Taufik pemilik kebun sawit di Gosong Telaga Barat, Kecamatan Singkil Utara, Senin (28/7/2025).

Separuh dari Kebun Hilang

Kebun sawit milik Taufik, sempat menjadi sasaran maling sawit. Tak tanggung-tanggung, ia pernah kehilangan hampir separuh dari produksi kebunnya. 

Sementara itu Ketaren pemilik kebun kelapa sawit di Gunung Meriah, mengaku tidak semua wilayah perkebunan kelapa sawit masyarakat jadi sasaran maling. Sebab sebagian kebun petani masih banyak yang aman.

"Tidak semua sih ada berapa-berapa wilayah yang kadang rawan kehilangan yang meresahkan pada petani kelapa sawit," kata Ketaren.

Kebun petani aman maling biasanya yang dekat dengan rumah pemiliknya atau dijaga siang malam. Paling tidak jumlah sawit yang dicurinya tidak separah yang jauh dari rumah pemiliknya dan tidak dijaga.

Berdasarkan hasil penelusuran ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab maraknya maling sawit. 

Pertama alasan ekonomi. Alasan klasik ini, bisa jadi pembenar karena Aceh Singkil, menyandang status sebagai kabupaten termiskin di Provinsi Aceh. 

Walau belum tentu sepenuhnya benar. Faktanya mencuri sawit membutuhkan fisik kuat serta keahlian memanen. Apa lagi, pencurian dilakukan pada malam hari. 

Tentu hanya seseorang yang memilki keterampilan yang bisa panen sawit malam hari. Idealnya jika memiliki fisik kuat dan keterampilan memanen, bisa ikut menjadi buruh papen di kebun warga atau perusahaan.

Memang upah panen sawit, boleh jadi tidak sebanyak dan semudah mendapatkan uang dari mencuri. Namun dengan bekerja, tidak merugikan orang lain serta berisiko bagi pelakunya manakala tertangkap.

Laki, Perempuan, bahkan Anak-anak

Khusus pelaku pengambil brondolan sawit yang sasar kebun milik perusahaan, menurut sejumlah sumber pemainnya bukan hanya laki-laki. Tetapi kaum perempuan dan anak di bawah umur disebut-sebut ada yang ikut terlibat.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved