Liputan Eksklusif Aceh
Siapa di Balik Maraknya Pencurian Sawit di Aceh Singkil?
Nahasnya maling tak hanya mencuri sawit matang. Tetapi sawit mentah pun digasak. Kondisi itu, membuat korban mengalami dua kali kerugian sekaligus.
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Safriadi Syahbuddin
Pelaku berdalih bukan mencuri, melainkan hanya mengambil buah sawit jatuh (brondolan) yang tidak diambil oleh pemiliknya.
Pekerjaan mengambil brondolan sawit tidak butuh tenaga ekstra dan keterampilan seperti mencuri TBS kelapa sawit. Pelaku hanya bermodal karung lalu berjalan dari satu tanam ke tanam sawit untuk mencari buah jatuh.
Sementara mencuri tandan sawit dari tanaman perlu menggunakan dodos atau egrek jika tanaman sawit tinggi.
Hal itu membutuhkan keterampilan serta mengundang perhatian, sehingga acap dilakukan malam hari serta lokasinya menyasar kebun jauh dari keramaian.
Masalah lain yang jadi penyebab maraknya pencurian kelapa sawit adalah menjamurnya ram sawit yang menerima buah sawit mentah. Ram merupakan istilah warga Aceh Singkil, untuk menyebut tempat pengepul sawit.
"Salah satu pemicu angka pencurian meningkat ram (penampung sawit mentah) menjamur di setiap desa," ujar Taufik yang juga anggota DPRK Aceh Singkil.
Penyebab berikutnya adanya ram sawit yang beroperasi malam hari. Analoginya tidak mungkin melakukan transaksi jual beli buah sawit pada malam hari. Kecuali karena alasan tertentu seperti kendaraan pembawa hasil produksi sawit dadi kebun petani terkendala di jalan.
Pencurian brondol juga dipicu harga jualnya yang lebih tinggi dibanding TBS kelapa sawit. Harga brondolan di Aceh Singkil, melejit pasca ada pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (PMKS) yang menerimanya.
Per kilogram brondol dibeli pengepul Rp 2.700 sementara TBS kelapa sawit dikisaran Rp 2.270 per kilogram.
Sebelumnya brondolan sawit hanya bisa di jual ke wilayah Sumatera Utara. Sehingga harganya tidak semahal ketika sudah ada PMKS khusus penampung brondolan di Aceh Singkil.
Bandingkan pendapatan buruh harian lepas (BHL) di Kabupaten Aceh Singkil dengan pendapatan dari mencuri brondol. Per hari BHL hanya Rp 100 ribu sementara mencuri brondolan sawit bisa mencapai Rp 200 ribu, bahkan lebih.
Baca juga: Upah Kuli Panen Sawit di Aceh Singkil Rp 200 Per Kilogram, Begini Cara Mengetahui Pemanen Terampil
Kebun sawit perusahan dan masyarakat bukan tidak dijaga. Namun seketat apapun penjagaan pencuri, lebih lihai. Ini sesuai dengan anekdot yang acap diucapkan para pemilik kebun sawit di Aceh Singkil.
Bahwa pencuri yang menjaga pemilik kebun, begitu lengah langsung digasaknya.
Plasma dan Ram
Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Singkil, Juliadi mengatakan ekonomi merupakan salah satu faktor utama merajalelanya pencarian sawit.
Pihaknya yang membidangi perkebunan usulkan program plasma segera direalisasikan. Ia yakin jika plasma dilaksanakan oleh perusahaan maka, persoalan ekonomi bisa teratasi, sehingga pencurian sawit berkurang.
Pencurian Sawit
Sawit Aceh Singkil
Pancurian Sawit di Aceh Singkil
Siapa Pencuri Sawit di Aceh Singkil
kelapa sawit
Aceh Singkil
| Di Kota Langsa, Mobil Berplat BK Diperkirakan Capai 70 Persen |
|
|---|
| Bupati Aceh Barat Serukan Warganya Pakai Plat BL, Agar Pajak tak Lari keluar Daerah |
|
|---|
| Begini Penjelasan PLN Aceh Terkait Pemberian Kompensasi Dampak Pemadaman Listrik |
|
|---|
| Bikin Gaduh! YaPKA Minta PLN Aceh Berikan Kompensasi kepada Konsumen, Terkait Listrik Padam |
|
|---|
| PLN Dituntut Berikan Kompensasi Bagi Pelanggan Atas Pemadam Listrik di Aceh Jaya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kebun-Sawit-di-Aceh-Singkil.jpg)