KUPI BEUNGOH
Prabowo, Abolisi Tom Lembong dan Amnesti Hasto, Isyarat Perubahan Arah?
Presiden Prabowo Subianto memberi abolisi kepada Tom Lembong dan amnesti kepada Hasto Kristiyanto bukan sekedar kebijakan hukum
Oleh: Zainal Arifin*)
Keputusan Presiden Prabowo Subianto memberi abolisi kepada Tom Lembong dan amnesti kepada Hasto Kristiyanto bukan sekedar kebijakan hukum.
Ini adalah manuver politik yang sarat makna dan membuka ruang tafsir: apakah Prabowo mulai menjauh dari bayang-bayang Jokowi?
Untuk diketahui, Prabowo bukan sekadar tentara yang patuh.
Ia adalah politisi yang tahu kapan harus diam dan kapan harus bergerak.
Abolisi dan amnesti ini bukan hanya soal hukum, tapi ini adalah langkah awal konsolidasi kekuasaan, dan mungkin, independensi elegan terhadap masa lalu.
Dimensi politik keputusan Prabowo
Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong adalah tokoh yang dekat dengan kubu Anies Baswedan.
Ia pernah menjabat Menteri Perdagangan pada era pemerintah Jokowi.
Namun, belakangan ia seperti menjadi lawan politik bagi Jokowi.
Baca juga: Jadi Kontroversi, Menkum Ungkap Motif Prabowo Beri Hasto Amnesti & Tom Lembong Abolisi
Pada Pilpres 2024, Tom Lembong memilih berpihak kepada Anies Baswedan.
Kecerdasan dan militansinya dalam mengkampanyekan Anies membuat kubu Prabowo – Gibran, yang “diotaki” oleh Jokowi, ketar-ketir.
Tom pun dijerat dengan kasus korupsi impor gula, hingga divonis 4,5 tahun penjara.
Maka, memberikan penghapusan padanya dapat dibaca sebagai sinyal rekonsiliasi dengan kelompok sensitivitas.
Sementara Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP, adalah simbol loyalis Megawati Soekarnoputri.
Pemberian amnesti kepadanya bisa dimaknai sebagai upaya merangkul PDIP, partai yang membesarkan Jokowi dan kemudian tampak marah karena merasa “dikhianati”.
Prabowo
Presiden
abolisi
Tom Lembong
amnesti
Hasto Kristiyanto
PDIP
Megawati
Jokowi
DPR RI
Serambi Indonesia
Serambinews
| Perang dan Damai - Bagian 6, No King: Protes Rakyat AS, Kembali ke Demokrasi Menuju Perdamaian |
|
|---|
| 24 Tahun Aceh Tamiang : Negeri yang Ditempa untuk Menjadi Besar |
|
|---|
| Hegemoni Energi AS dan Dilema China di Balik Penangkapan Maduro dan Serangan ke Iran |
|
|---|
| Membaca Strategi Pakistan Sebagai Mediator yang Lahir di Tengah Badai Krisis |
|
|---|
| Carut Marut Kabel Optik dan Wajah Kota Banda Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Zainal-Arifin_Pemred-Harian-Serambi-Indonesia_.jpg)