Minggu, 26 April 2026

Opini

Ketika Warung Kopi jadi Zona Buang Waktu

WARUNG kopi telah lama menjadi bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat  khususnya di Aceh dan Indonesia pada umumnya.

Editor: mufti
IST
M Zubair SH MH,  Kadis Kominfo dan Persandian Kabupaten Bireuen 

Mengembalikan fungsi

Untuk menghilangkan fenomena buruk itu sudah saatnya untuk mengembalikan marwah produktif warung kopi dengan menghidupkan kembali menjadi ruang produktif. Warung kopi harus dikelola dan dimanfaatkan secara bijak dengan strategi yang mungkin dapat diterapkan antara lain: Membentuk komunitas diskusi dan literasi di warung kopi yang secara rutin mengangkat tema-tema aktual dan membangun. Mendorong warung kopi untuk menyediakan ruang belajar atau kerja bersama (co-working corner) yang dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti rak buku, papan tulis, atau layar presentasi.

Kemudian menumbuhkan kesadaran manajemen waktu di kalangan pengunjung, misalnya dengan kampanye “1(satu) Jam Produktif di Warung Kopi”. Serta mengurangi ketergantungan pada game dan konten hiburan, dan menggantinya dengan aktivitas kreatif seperti lomba menulis, pameran seni, atau kelas keterampilan singkat.
Dengan pendekatan ini, warung kopi dapat kembali menjadi inkubator ide dan jejaring sosial yang berdaya, bukan sekadar tempat menghabiskan waktu tanpa jejak.

Kita tidak sedang menyalahkan tempat, tetapi harus mengerti cara  memanfaatkannya sehinnga warung kopi dapat menjadi ruang produktif. Perlu kesadaran kolektif untuk merekonstruksi ulang budaya nongkrong menjadi budaya produktif. Hanya dengan cara ini, kita bisa memastikan bahwa setiap cangkir kopi yang kita nikmati juga menyeduh semangat untuk bertumbuh, bukan hanya membuang waktu.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved